Rabu , 16 September 2026
BeritaInternasional

Hening dan Kosong: Penutupan Masjid Al-Aqsa Berlanjut Hari ke-12, Warga Palestina Dilarang Beribadah

YERUSALEM — Kompleks suci Masjid Al-Aqsa tetap ditutup oleh pasukan Israel untuk hari keduabelas berturut-turut, membuat salah satu tempat paling suci dalam Islam itu berubah menjadi ruang yang sunyi.

Penutupan tersebut mencegah umat Muslim melaksanakan salat dan ibadah selama sepuluh malam terakhir Ramadan periode yang dianggap paling sakral dalam kalender Islam.

Otoritas Israel berdalih langkah tersebut dilakukan karena alasan keamanan terkait konflik yang sedang berlangsung dengan Iran.

Namun banyak pihak menilai kebijakan ini sebagai preseden berbahaya yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak pendudukan Yerusalem.

Sejak tahun 1967, salat Tarawih dan i’tikaf selalu berlangsung di dalam Masjid Al-Aqsa, bahkan di masa konflik paling sulit sekalipun.

Kekhawatiran Upaya Mengubah Status Masjid

Pemerintah Provinsi Yerusalem memperingatkan bahwa penutupan tersebut terjadi di tengah meningkatnya hasutan dari kelompok ekstremis yang dikenal sebagai organisasi “Kuil”.

Pihak otoritas lokal menilai langkah Israel bukan sekadar tindakan keamanan sementara.

Menurut mereka, kebijakan tersebut mencerminkan agenda politik dan ideologis untuk mengubah status quo keagamaan, historis, dan hukum yang selama ini berlaku di kompleks Al-Aqsa.

Sementara itu, pasukan Israel juga memperketat pengamanan di kawasan Kota Tua Yerusalem.

Area sekitar Gerbang Damaskus ditutup, sementara akses warga Palestina ke kota tersebut sangat dibatasi.

Kota Tua yang Sunyi

Penutupan total kompleks masjid membuat halaman Al-Aqsa—yang biasanya dipenuhi ribuan jamaah selama Ramadan menjadi kosong.

Area salat dan halaman masjid ditutup sepenuhnya, menciptakan suasana yang digambarkan warga Yerusalem sebagai “hening dan kosong”.

Kebijakan tersebut juga merampas kesempatan umat Muslim untuk melakukan i’tikaf, sebuah ibadah penting pada sepuluh malam terakhir Ramadan.

Selain itu, otoritas Israel dilaporkan memaksa pemilik toko di sekitar kawasan untuk menutup usaha mereka setelah sekelompok pemuda membagikan makanan buka puasa kepada para pejalan kaki.

Sejak awal Ramadan, pembatasan ketat juga diberlakukan terhadap warga Palestina yang ingin memasuki Yerusalem.

Pada salat Jumat terakhir, hanya sekitar 6.000 jamaah yang diizinkan masuk jumlah yang jauh lebih kecil dibandingkan puluhan ribu jamaah yang biasanya hadir.

Kontradiksi Kebijakan

Sumber-sumber lokal mencatat adanya kontradiksi mencolok dalam kebijakan tersebut.

Sementara warga Palestina dilarang melaksanakan salat dan i’tikaf, para pemukim Israel justru diizinkan mengadakan pertemuan keagamaan dan politik di sekitar gerbang kompleks masjid dengan pengamanan ketat.

Acara-acara pemukim juga tetap diizinkan berlangsung di Kota Tua dan di kawasan Tembok Barat, bahkan setelah pecahnya konflik dengan Iran.

Langkah ini memicu kecaman luas dari warga Palestina yang menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kebebasan beragama dan tradisi sejarah yang telah dijaga selama beberapa generasi.

Sumber: Palinfo

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Palestina

ArtikelKolom

Genosida Gaza: Antara Debu, Darah dan Doa

Di banyak tempat di dunia, air adalah simbol kehidupan. Namun di Gaza hari ini, mencari air justru bisa berarti mempertaruhkan nyawa. Pada 17...

Kolom

Taufan Al-Aqsa: Titik Balik Global dan Peluang Pembebasan Palestina

Ma’moun Fandy, professor ilmu politik di Georgetown University dan direktur London Global Strategy Institute, menulis di X pada 2/10/2025, “Gaza memang belum membebaskan Palestina dari...

Kolom

Dunia Gagal dalam Ujian Kelaparan di Gaza

Di Turki, ada ungkapan lama yang berbunyi: “Semoga Tuhan tidak menguji siapa pun dengan kelaparan.” Ungkapan ini lahir dari kesadaran akan betapa kejamnya...

ArtikelKolom

Muhammad al-Daif (Bag 1): Simbol Perlawanan Palestina yang Tak Tergoyahkan

Muhammad al-Daif adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah perlawanan Palestina. Namanya bukan hanya dikenal di Gaza, tetapi juga di seluruh dunia...

ArtikelKolom

Narasi Kegagalan yang Diakui Sendiri oleh Elit Penjajah Israel

Dalam sejarah panjang konflik Palestina-Israel, pertempuran di Gaza selalu menjadi salah satu ujian terberat bagi Israel. Gaza, dengan segala keterbatasannya akibat blokade dan...

Related Articles

11 Bulan Pasca Gencatan Senjata: Ratusan Ribu Warga Gaza Terjebak di Antara Tenda Lapuk dan Reruntuhan

GAZA — Hampir setahun berlalu sejak kesepakatan gencatan senjata ditandatangani dan pintu pembatas...

Serangan Penjajah Israel Meluas di Tepi Barat, Rusak Lahan Pertanian Warga

TEPI BARAT — Tepi Barat dan Yerusalem yang diduduki mengalami peningkatan serangan...

Gaza di Bawah Reruntuhan: Ketika Puing Jadi Makam Massal dan Bukti Kejahatan yang Coba Dilenyapkan Israel

Puing-puing bangunan yang membentang di seluruh penjuru Jalur Gaza kini tak lagi...

Laporan PBB Soroti Kekhawatiran Pembersihan Etnis di Tiga Kamp Pengungsi Tepi Barat

Sebuah laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang diterbitkan pada Jumat menyatakan bahwa Israel...