JAKARTA — Ribuan orang mengikuti aksi solidaritas untuk Palestina yang digelar di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS), Jakarta, Ahad (14/6/2026). Aksi yang diinisiasi oleh KITA Palestina (Komite Solidaritas Palestina) tersebut dihadiri sejumlah tokoh nasional, termasuk Ketua Umum Wahdah Islamiyah, Ustaz Dr. Zaitun Rasmin, Ketua Umum PP Al-Irsyad Al-Islamiyyah oleh Prof. Dr. Faisol Nasar Bin Madi, M.A., tokoh langsung dari Palestina Syaikh Dr. Ahed Abu Al-Atta.
Dalam orasinya, Ustaz Zaitun Rasmin menegaskan bahwa perjuangan rakyat Palestina bukan hanya isu keagamaan, tetapi juga persoalan kemanusiaan dan keadilan yang menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat dunia.
“Palestina adalah simbol perjuangan melawan penjajahan dan kezaliman. Selama hak-hak rakyat Palestina belum dipulihkan, maka suara solidaritas harus terus dikumandangkan,” tegasnya di hadapan massa aksi.
Selain penyampaian orasi, kegiatan juga dimeriahkan dengan penampilan nasyid serta aksi teatrikal yang menggambarkan penderitaan rakyat Palestina akibat konflik yang terus berlangsung.

Dalam pernyataan sikap yang dibacakan pada aksi tersebut, peserta menyampaikan keprihatinan mendalam atas masih berlanjutnya agresi militer Israel di Gaza meskipun telah disepakati gencatan senjata pada November 2025.
Mereka menyoroti sejumlah fakta yang dinilai menunjukkan krisis kemanusiaan masih berlangsung di wilayah tersebut. Dalam tujuh bulan terakhir, lebih dari 1.000 warga Palestina dilaporkan menjadi korban jiwa.
Di sisi lain, pasokan kebutuhan pokok dan bantuan kemanusiaan yang masuk ke Gaza disebut masih jauh di bawah kebutuhan masyarakat serta belum sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat.
Massa aksi juga menyoroti terus berlanjutnya penghancuran fasilitas umum dan permukiman warga yang dinilai semakin memperburuk kondisi kemanusiaan di Gaza. Mereka menilai kondisi tersebut menunjukkan praktik genosida masih berlangsung, terlebih dengan adanya rencana perluasan wilayah yang akan dikuasai Israel hingga sekitar 70 persen wilayah Gaza.

Selain situasi di Gaza, peserta aksi juga menyoroti berbagai tindakan yang terjadi di Tepi Barat. Di antaranya penutupan Masjid Al-Aqsa selama bulan Ramadan hingga sepuluh hari setelah Idulfitri, provokasi yang dilakukan warga Zionis di kompleks Masjid Al-Aqsa dengan perlindungan aparat keamanan Israel, serta serangan dan pembakaran terhadap permukiman warga Kristen dan Gereja St. George (Al-Khader) di Desa Taybeh, Tepi Barat.
Mereka juga mengecam penangkapan, penyekapan, dan penyiksaan terhadap para aktivis kemanusiaan yang tergabung dalam Sumud Flotilla 2.0 setelah ditangkap oleh tentara Israel di perairan internasional.
Berdasarkan berbagai fakta tersebut, massa aksi menyampaikan sejumlah tuntutan. Mereka mengutuk segala bentuk penjajahan, agresi, penyerangan, pembakaran, dan pemboman terhadap rakyat Palestina, baik di Gaza maupun di Tepi Barat.
Dalam kesempatan yang sama, Syaikh Dr. Ahed Abu Al-Atta menyampaikan apresiasi kepada rakyat Indonesia yang dinilai konsisten mendukung perjuangan Palestina.
“Solidaritas yang ditunjukkan masyarakat Indonesia memberikan harapan dan semangat bagi rakyat Palestina yang terus menghadapi penderitaan akibat konflik berkepanjangan,” ujarnya.

Peserta aksi juga mendesak Presiden Amerika Serikat Donald Trump serta para pemimpin negara yang menjadi pemrakarsa, saksi, dan pendukung gencatan senjata November 2025 untuk memastikan seluruh kesepakatan dijalankan, khususnya penghentian serangan terhadap Gaza dan kelancaran distribusi bantuan kemanusiaan.
Selain itu, mereka menolak segala bentuk perampasan dan pendudukan wilayah Palestina, termasuk rencana perluasan penguasaan wilayah Gaza. Massa juga mengecam tindakan pelecehan, penutupan, penodaan, dan perusakan Masjid Al-Aqsa, serta pembakaran Gereja St. George dan rumah-rumah ibadah lainnya.
Dalam pernyataan sikap tersebut, peserta aksi turut mendesak 157 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang telah menyatakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina agar mengambil langkah nyata untuk mewujudkan kemerdekaan tersebut serta mendorong mekanisme internasional yang lebih efektif dalam melindungi rakyat Palestina.
Aksi berlangsung damai dengan pengawalan aparat keamanan dan diakhiri dengan doa bersama untuk keselamatan rakyat Palestina serta terwujudnya kemerdekaan Palestina.
Laporan: Media KITA Palestina
Leave a comment