MAKASSAR – Sharing session yang diinisiasi oleh Kita Palestina, sebagai lembaga yang selama ini aktif mengadvokasi isu Palestina di lingkungan Wahdah Islamiyah bersama relalawan Sumud Flotilla digelar di Masjid Anas bin Malik IAI STIBA Makassar pada Kamis, 4 Juni 2026.
Kegiatan ini dipandu oleh Ustaz Muhammad Ikhwan Jalil, Lc., M.H.I., M.Pd. (Dosen STIBA Makassar), dengan sambutan pembuka dari Ustaz Syaibani Mujiono, S.Sy., M.Si., Ph.D. (Ketua KITA Palestina).
Ustaz As’ad adalah relawan Sumud Flotilla yang sudah 10 tahun aktif bergerak di bidang kemanusiaan. Kelahiran Sinjai 1993, mondok di pesantren Bogor. Ketika ia memutuskan untuk bergabung dalam Global Sumud Flotilla armada kemanusiaan dari 45 negara dengan 452 peserta dan 58 kapal yang berupaya menembus blokade Gaza.

Armada bertolak dari Pelabuhan Marmaris, Turki, pada 14 Mei 2026. Target: pantai Gaza dalam enam hari pelayaran. Kapal yang membawa As’ad adalah yang terbesar dalam rombongan muat 20 orang, sementara kapal lain hanya muat delapan.
Di atas kapal perang Israel, satu per satu relawan dimasukkan ke kontainer kecil dan disiksa. As’ad ditendang hingga terlempar, dibanting, ditinju, dan diinjak. Rahangnya terkena tinju keras hingga tidak bisa membuka mulut untuk minum dan makan.
Tapi apa yang ia alami, ia akui, masih jauh lebih ringan. Dua rekan dari Indonesia disetrum. Peserta dari negara-negara Arab dan Turki mengalami lebih parah hampir seluruh tubuh disetrum, tulang patah. Data yang masuk ke panitia menyebut lebih dari 30 orang mengalami patah tulang, dan 40 orang dilaporkan mengalami pelecehan seksual laki-laki maupun perempuan.

Selama berjam-jam, lebih dari 200 relawan dijejal dalam dua kontainer panjang di tengah kapal perang. Berdiri, tangan diborgol, mata sebagian ditutup, mendengarkan jeritan rekan-rekan yang disiksa bergantian. Satu botol air dibagi lima orang. Roti kering yang tidak layak makan hanya dijadikan bantal.
“Yang paling tidak bisa kami terima adalah ketika kami dipaksa berlutut, kepala di lantai, tangan diikat, selama dua jam diperdengarkan lagu kebangsaan Israel. Bendera Israel dipegang oleh menteri Ben Gvir yang hadir langsung di situ. Kami bersujud di bawahnya,” kata As’ad.
Dari kapal perang, mereka dibawa ke Pelabuhan Ashdod tanah Palestina yang kini di bawah pendudukan. As’ad mengakui ada perasaan yang bercampur di situ. Ia pernah mencoba mengunjungi Al-Aqsa, tapi visanya tidak keluar. Kini ia menginjakkan kaki di bumi yang diberkahi dalam keadaan dirantai.

Ustaz Muhammad Ikhwan Jalil menutup siang itu dengan taujihat yang langsung menyentuh hati. Ia menekankan bahwa jangan biarkan kisah seperti ini hanya menjadi hiburan emosional yang datang dan pergi.
“Setiap dosa kita adalah saham untuk melemahkan umat ini. Setiap kelalaian kita adalah saham untuk melemahkan umat ini,” tegasnya.
Kapal tidak sampai ke Gaza. Bantuan tidak tersampaikan. Tapi ada sesuatu yang lebih dari itu yang terjadi 452 orang dari 45 negara membuktikan kepada dunia bahwa kekejian itu nyata, bahwa saudara-saudara kita di Palestina menanggung jauh lebih berat dari yang bisa kita bayangkan, dan bahwa diam bukan pilihan.
“Kami meninggalkan 9.600 tahanan Palestina di penjara Israel. Mereka merasakan apa yang kami rasakan selama empat hari selama puluhan tahun. Dan tidak ada yang mendengar jeritan mereka,” ungkap As’ad.
Laporan: Media KITA Palestina
Leave a comment