JAKARTA — Majelis Ulama Indonesia (MUI) menggelar acara silaturahmi dan syukuran atas pembebasan sembilan Warga Negara Indonesia (WNI) relawan kemanusiaan yang tergabung dalam misi Global Sumud Flotilla dan sempat ditahan oleh otoritas Israel.
Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Buya Hamka, Gedung MUI Pusat, Jakarta, (Selasa, 26 Mei 2026) serta dihadiri tokoh ormas Islam, perwakilan pemerintah, dan para relawan kemanusiaan.
Acara tersebut turut diisi dengan penyampaian sikap dan dukungan dari sejumlah tokoh MUI terhadap perjuangan kemanusiaan bagi rakyat Palestina.
Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional (HLN-KI), Prof. Dr. Sudarnoto Abdul Hakim, menegaskan bahwa penahanan terhadap relawan kemanusiaan merupakan tindakan yang mencederai nilai-nilai kemanusiaan dan melanggar hukum internasional.
“Israel harus dihentikan. Mereka telah menjadikan tindakan kemanusiaan sebagai sesuatu yang salah, padahal dunia internasional tahu relawan kita bergerak untuk misi damai dan bantuan kemanusiaan,” ujarnya.

Ia juga mengajak umat Islam dan masyarakat internasional untuk terus bersatu dalam membela rakyat Palestina.
“Kita tidak boleh diam. Penindasan terhadap Palestina sudah melampaui batas dan dunia Islam harus bersatu menghadapi ini,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Umum MUI KH. Anwar Iskandar menyampaikan apresiasi atas keberanian dan keteguhan para relawan Indonesia yang tetap membawa misi kemanusiaan di tengah situasi penuh risiko.
“Apa yang dilakukan para relawan bukan sekadar aksi kemanusiaan, tetapi juga cermin nilai-nilai keimanan. Kita harus terus menyuarakan keadilan dan menolak segala bentuk kezaliman di mana pun itu terjadi,” tegasnya.
Hadir pula Ustadz Dr. KH. Muhammad Zaitun Rasmin, Lc., MA, Ketua MUI Bidang Ukhuwah sekaligus salah satu tokoh penggerak solidaritas Palestina di Indonesia. Dalam pernyataannya, Ustadz Zaitun menyampaikan rasa syukur atas pembebasan para relawan serta mengingatkan bahwa perjuangan untuk Palestina belum selesai.
“Sembilan relawan WNI yang sempat ditawan kini telah bebas. Kita tentu sangat bersyukur. Apresiasi besar untuk gerak cepat pemerintah Indonesia dalam mengupayakan pembebasan para aktivis Global Sumud Flotilla,” ujarnya.
Namun demikian, Ia menegaskan bahwa dukungan terhadap Palestina tidak boleh berhenti hanya pada pembebasan para relawan.
“Suara kita tidak boleh senyap sampai di sini. Misi utama mereka dan misi kita semua yang memiliki hati nurani adalah memastikan bantuan kemanusiaan sampai ke Gaza dan Palestina merdeka. Jangan berhenti bersuara!” tegas Ustadz Zaitun.

Di penghujung acara, salah seorang relawan, Mas Herman, turut membagikan kesaksiannya mengenai perlakuan yang mereka alami selama berada dalam tahanan Israel.
“Kami dipaksa bersujud, dipukul, dan ditendang. Sepanjang penahanan, kata-kata kasar dan tidak senonoh terus dilontarkan kepada kami. Kami bahkan tidak diizinkan menggunakan toilet hingga harus menahan buang air dalam waktu lama. Dengan tangan yang diikat sangat kencang, kami terpaksa menjalankan salat dalam keadaan terikat,” ungkap Mas Herman.
Meski mengalami berbagai tindakan tidak manusiawi, Mas Herman menegaskan bahwa penderitaan yang mereka rasakan masih jauh dibandingkan dengan kondisi rakyat Palestina di Gaza yang terus menghadapi penjajahan dan krisis kemanusiaan setiap hari.
“Semua itu tidak ada apa-apanya ketika mengingat siksaan dan penderitaan yang dirasakan rakyat Palestina setiap hari,” tambahnya.
MUI juga menegaskan dukungannya terhadap para relawan kemanusiaan yang terus menunjukkan keberanian dan kepedulian terhadap rakyat Palestina. Semangat dan pengorbanan para relawan diharapkan dapat menginspirasi masyarakat luas untuk terus menyuarakan keadilan dan mendukung perjuangan kemanusiaan bagi Gaza dan Palestina.
Laporan: Media UZR
Leave a comment