GAZA — Serangan militer Israel kembali merenggut nyawa warga sipil di Jalur Gaza, termasuk anak-anak, di tengah berlanjutnya pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata yang seharusnya melindungi penduduk dari kekerasan bersenjata.
Sedikitnya enam warga Palestina dilaporkan tewas dalam serangkaian serangan yang terjadi pada Kamis, dengan tiga di antaranya adalah anak-anak. Serangan tersebut menyasar wilayah padat penduduk dan lokasi yang menjadi tempat perlindungan warga sipil.
Di selatan Gaza, tepatnya di Khan Younis, seorang pemuda bernama Yahya Abu Shalhoub tewas setelah sebuah drone Israel menargetkan sekelompok warga sipil di kawasan Al-Maslakh. Tiga orang lainnya mengalami luka-luka dalam serangan yang sama.
Tak jauh dari lokasi tersebut, seorang warga lainnya dilaporkan mengalami luka kritis akibat serangan drone yang menghantam bundaran Bani Suheila di bagian timur kota.
Sementara itu, di wilayah utara Gaza, serangan udara Israel di Beit Lahia menewaskan lima warga Palestina, termasuk tiga anak-anak. Sumber medis di Rumah Sakit Al-Shifa melaporkan bahwa para korban tiba dalam kondisi mengenaskan, sebagian besar dengan luka parah akibat ledakan.
Para korban yang teridentifikasi antara lain Aboud Mahmoud Al-Abed, Alaa Nabil Hussein Balousha, Muhammad Bahaa Nabil Balousha, Anas Ehab Abu Foul, dan Salah Mahmoud Al-Abed.
Saksi mata menggambarkan detik-detik serangan yang terjadi di alun-alun dekat Masjid Al-Qassam.
“Mereka hanya berdiri berkumpul, lalu tiba-tiba ledakan terjadi. Anak-anak berlarian, jeritan terdengar di mana-mana,” ujar seorang warga yang menyaksikan langsung peristiwa tersebut.
Ambulans bergegas mengevakuasi korban ke Rumah Sakit Al-Shifa, yang kini kewalahan menangani lonjakan korban akibat serangan berulang.
Di wilayah lain, pasukan Israel juga dilaporkan melepaskan tembakan artileri dan senjata berat ke sejumlah titik di Gaza tengah, termasuk kamp pengungsi al-Bureij dan al-Maghazi. Empat pengungsi dilaporkan terluka akibat tembakan di timur al-Bureij, sementara penembakan intens juga terjadi di lingkungan Shuja’iyya, timur Kota Gaza.
Ketegangan terus meningkat di tengah pelanggaran berulang terhadap kesepakatan gencatan senjata. Kantor Media Pemerintah Gaza mencatat sedikitnya 2.400 pelanggaran sejak kesepakatan berlaku, mencakup pembunuhan, penangkapan, pengepungan, hingga pembatasan bantuan kemanusiaan.
Data Kementerian Kesehatan Palestina menunjukkan bahwa sejak dimulainya gencatan senjata pada 10 Oktober 2025, sebanyak 784 warga Palestina tewas dan 2.214 lainnya terluka akibat pelanggaran yang terus terjadi.
Secara keseluruhan, sejak agresi dimulai pada 7 Oktober 2023, jumlah korban telah mencapai sekitar 72.562 orang tewas dan lebih dari 172.320 luka-luka sebuah angka yang mencerminkan skala kehancuran kemanusiaan yang terus memburuk.
Komunitas internasional semakin gencar menyerukan penghentian serangan terhadap warga sipil. Sejumlah organisasi hak asasi manusia menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional, termasuk prinsip perlindungan terhadap non-kombatan.
Namun, hingga kini, serangan terus berlanjut, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban yang kehilangan orang-orang tercinta terutama anak-anak yang menjadi korban dalam konflik yang tak mereka pahami.
Sumber: Palinfo
Leave a comment