BeritaInternasional

Normalisasi Pelanggaran, Wajah Baru Penjajahan di Al-Aqsa dan Puing-Puing di Tepi Barat

MASJID AL AQSA – Eskalasi di kompleks Masjid Al-Aqsa memasuki babak baru yang mengkhawatirkan. Pada Rabu (15/4/2026), sebanyak 157 pemukim Yahudi melakukan persekusi ruang dengan menduduki area timur masjid, tepat di bawah pepohonan dekat mushala Bab al-Rahma. Bukan sekadar melintas, kelompok ini mulai memancangkan “fakta baru” di lapangan dengan menggelar sesi studi agama dan ritual terbuka, sebuah pemandangan yang sebelumnya tabu dilakukan di zona sensitif tersebut.

Kantor Gubernur Al-Quds mencatat perubahan perilaku ini sebagai upaya sistematis untuk mengubah status quo. Di bawah kawalan ketat pasukan keamanan Israel yang memblokade akses bagi jemaah muslim, seorang rabi memimpin “kelas pagi” lengkap dengan penjelasan mengenai kuil yang mereka cita-citakan. Mereka bahkan tak segan menggunakan fasilitas milik masjid, seperti kursi dan teras jemaah, sebagai properti ritual.

Langkah ini seakan menjadi perwujudan dari ambisi Menteri Keamanan Nasional, Itamar Ben-Gvir, yang pada Agustus 2024 lalu secara terang-terangan menyatakan niatnya membangun sinagoga di area timur kompleks tersebut. Sejak pernyataan itu keluar, area Bab al-Rahma berubah menjadi titik panas aktivitas doa kolektif harian kelompok pemukim.

Sementara pemukim diberi keleluasaan, jemaah Palestina justru terus dijepit. Salah satu korbannya adalah Marwan al-Rashiq, pemuda Al-Aqsa yang baru saja dilepaskan hari ini dengan syarat berat: dilarang menginjakkan kaki di kompleks Al-Aqsa selama sepekan, dengan ancaman perpanjangan larangan hingga enam bulan.

Eksklusi Melalui Buldozer

Di luar tembok kota tua, mesin-mesin penghancur Israel bekerja tanpa henti. Sebanyak 13 bangunan di distrik Yerusalem diratakan dengan tanah hari ini. Dalihnya klasik: ketiadaan izin bangunan dari otoritas kota, sebuah dokumen yang secara birokratis hampir mustahil didapatkan oleh warga Palestina.

Pemerintah Al-Quds mengecam aksi ini sebagai “pembersihan keberadaan Palestina” yang terencana. Salah satu puing yang tersisa adalah rumah milik Saleh Dweik di lingkungan Al-Bustan, Silwan. Rumah seluas 110 meter persegi itu telah menjadi tempat bernaung keluarganya sejak 1998. Hanya dalam hitungan jam, jerih payah puluhan tahun itu menjadi tanah.

Kekejaman serupa terjadi di daerah pinggiran Al-Ram. Iyad al-Harsh, seorang pekerja di sebuah istal kuda, menceritakan bagaimana pasukan Israel datang di pagi buta tanpa peringatan.

“Mereka langsung menghancurkan lokasi. Saat saya mencoba menunjukkan dokumen pembuktian, mereka justru menyerang saya secara fisik,” lapornya.

Mereka Menghancurkan Masa Depan

Operasi penghancuran ini merembet hingga ke pelosok Tepi Barat. Di Hebron, sebuah pabrik besi milik keluarga Saed al-Amala diledakkan hingga rata. Padahal, pihak keluarga sedang dalam proses hukum melalui pengacara untuk membatalkan perintah pembongkaran tersebut.

Nasib paling getir mungkin dialami oleh seorang pemuda di Ezbet Shufa, selatan Tulkarem. Sebuah apartemen yang sedang dibangun dan sebuah rumah yang disiapkan untuk pernikahannya bulan depan, kini tinggal puing.

Taysir Hamed, pemilik bangunan tersebut, berdiri lemas di depan reruntuhan bangunan seluas 320 meter persegi itu.

“Mereka tidak hanya menghancurkan beton. Mereka menghancurkan keringat kami bertahun-tahun untuk memaksa kami pergi dari tanah ini,” ujarnya getir.

Sumber: Palinfo

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Palestina

ArtikelKolom

Genosida Gaza: Antara Debu, Darah dan Doa

Di banyak tempat di dunia, air adalah simbol kehidupan. Namun di Gaza hari ini, mencari air justru bisa berarti mempertaruhkan nyawa. Pada 17...

Kolom

Taufan Al-Aqsa: Titik Balik Global dan Peluang Pembebasan Palestina

Ma’moun Fandy, professor ilmu politik di Georgetown University dan direktur London Global Strategy Institute, menulis di X pada 2/10/2025, “Gaza memang belum membebaskan Palestina dari...

Kolom

Dunia Gagal dalam Ujian Kelaparan di Gaza

Di Turki, ada ungkapan lama yang berbunyi: “Semoga Tuhan tidak menguji siapa pun dengan kelaparan.” Ungkapan ini lahir dari kesadaran akan betapa kejamnya...

ArtikelKolom

Muhammad al-Daif (Bag 1): Simbol Perlawanan Palestina yang Tak Tergoyahkan

Muhammad al-Daif adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah perlawanan Palestina. Namanya bukan hanya dikenal di Gaza, tetapi juga di seluruh dunia...

ArtikelKolom

Narasi Kegagalan yang Diakui Sendiri oleh Elit Penjajah Israel

Dalam sejarah panjang konflik Palestina-Israel, pertempuran di Gaza selalu menjadi salah satu ujian terberat bagi Israel. Gaza, dengan segala keterbatasannya akibat blokade dan...

Related Articles

Wahdah Islamiyah Tegaskan Komitmen Dukung Ekosistem Ekonomi Syariah Nasional di Forum SELF 2026

JAKARTA — Wahdah Islamiyah menegaskan komitmennya dalam mendukung penguatan ekosistem ekonomi syariah...

MUI Desak Pemerintah Segara Selamatkan 9 Aktivis Kemanusiaan dari Penculikan Israel

JAKARTA – Majelis Ulama Indonesia (MUI), ormas Islam dan lembaga-lembaga filantropi nasional...

Kementerian Kesehatan Palestina: 871 Warga Gugur di Gaza Sejak Gencatan Senjata

Kementerian Kesehatan Palestina mengumumkan pada Minggu bahwa enam warga gugur dan 19...