JAKARTA — Ustadz Dr. KH. Muhammad Zaitun Rasmin mengecam keras aksi provokatif pemukim Israel yang kembali memasuki kawasan Masjid Al-Aqsha dan mengibarkan bendera Israel di area tempat suci umat Islam tersebut.
Kecaman itu disampaikan menyusul beredarnya video yang memperlihatkan sejumlah pemukim Israel berada di kawasan Masjid Al-Aqsha dengan membawa bendera Israel. Dalam keterangan berbahasa Arab yang beredar, disebutkan bahwa para pemukim memasuki Masjid Al-Aqsha dengan perlindungan pasukan pendudukan Israel.
Ustdaz Zaitun menilai tindakan tersebut sebagai bentuk pelecehan terhadap kesucian Masjid Al-Aqsha, provokasi terbuka terhadap umat Islam, sekaligus bagian dari upaya sistematis untuk mengubah status historis dan keagamaan kawasan suci tersebut.
“Kami mengecam keras aksi provokatif pemukim Israel di kawasan Masjid Al-Aqsha. Kami menegaskan bahwa Masjid Al-Aqsha adalah tempat suci umat Islam yang harus dijaga kehormatannya. Ia tidak boleh dijadikan arena provokasi politik, simbol dominasi penjajahan, atau upaya pemaksaan kedaulatan secara sepihak,” ujar Ketua Ikatan Ulama dan Da’i Asia Tenggara yang juga Ketua MUI Bidang Ukhuwah ini, Rabu (10/6/2026).
Menurut Ustadz Zaitun, pengibaran bendera Israel di kawasan Al-Aqsha tidak dapat dipandang sebagai tindakan biasa. Aksi tersebut, kata dia, merupakan bagian dari rangkaian pelanggaran yang terus berulang terhadap hak umat Islam dan rakyat Palestina.
“Masjid Al-Aqsha memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam Islam. Setiap tindakan yang mencederai kehormatannya adalah pelanggaran serius dan melukai hati kaum muslimin di seluruh dunia. Kita menyerukan agar tindakan provokatif seperti ini segera dihentikan, karena hanya akan memperluas ketegangan dan memperdalam penderitaan rakyat Palestina,” tegasnya.
Sebelumnya, Al Jazeera Net melaporkan bahwa menjelang apa yang disebut sebagai “Hari Kemerdekaan” Israel, sejumlah kelompok ekstremis menyerukan mobilisasi untuk melakukan penyerbuan besar-besaran ke Masjid Al-Aqsha dan mengibarkan bendera Israel di kawasan tersebut. Seruan itu antara lain disebarkan melalui media sosial oleh kelompok-kelompok ekstremis yang mendorong para pemukim untuk melakukan aksi kolektif di area Al-Aqsha.
Laporan tersebut juga menyebut bahwa pengibaran bendera Israel di halaman Masjid Al-Aqsha bukan pelanggaran baru. Namun, pelanggaran seperti itu kini semakin sering terjadi seiring dengan pembatasan terhadap akses jamaah Muslim ke kawasan Al-Aqsha dan meningkatnya perlindungan aparat Israel terhadap para pemukim.
Berdasarkan data yang dikutip dari otoritas Wakaf Islam di Yerusalem, ratusan pemukim Israel memasuki kawasan Masjid Al-Aqsha pada momentum yang mereka sebut sebagai “Hari Kemerdekaan” dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2025, sebanyak 515 pemukim disebut memasuki Al-Aqsha dalam momentum tersebut, setelah sebelumnya 526 orang pada 2024 dan 474 orang pada 2023.
Menurutnya, tindakan-tindakan provokatif di Al-Aqsha tidak boleh dinormalisasi, apalagi dibiarkan menjadi pola baru yang menggerus hak umat Islam atas tempat suci tersebut.
“Dunia internasional tidak boleh membiarkan pelanggaran terhadap Masjid Al-Aqsha terus berulang. Harus ada sikap yang tegas, adil, dan berorientasi pada penghentian penjajahan. Masjid Al-Aqsha harus tetap terlindungi, dan rakyat Palestina harus mendapatkan hak-haknya secara bermartabat,” ujar Kiyai Zaitun.
Ia juga mengajak umat Islam, para ulama, dai, tokoh masyarakat, serta seluruh elemen bangsa untuk terus menyuarakan pembelaan terhadap Al-Aqsha dan Palestina melalui cara-cara yang bermartabat, konstitusional, dan membawa maslahat.
“Kita mengajak umat Islam untuk terus menjaga kepedulian terhadap Al-Aqsha dan Palestina melalui doa, edukasi, diplomasi kemanusiaan, serta dukungan moral dan material sesuai kemampuan masing-masing. Kepedulian ini harus terus dijaga agar dunia tidak menormalisasi kezaliman dan penjajahan,” lanjutnya.
Ketua MUI Bidang Ukhuwah tersebut mendorong negara-negara Muslim dan lembaga-lembaga Islam internasional untuk mengambil langkah yang lebih nyata dalam membela Masjid Al-Aqsha. Menurutnya, solidaritas terhadap Palestina tidak cukup hanya berupa pernyataan, tetapi perlu diikuti dengan penguatan diplomasi, advokasi, dan dukungan kemanusiaan yang berkelanjutan.
“Umat Islam harus bersatu dalam menjaga kehormatan Masjid Al-Aqsha. Ini bukan hanya isu Palestina, tetapi isu umat Islam dan kemanusiaan. Al-Aqsha adalah amanah besar yang harus terus dibela dengan kesadaran, persatuan, dan langkah-langkah yang bertanggung jawab,” katanya.
Ustadz Zaitun menutup pernyataannya dengan mengajak umat Islam mendoakan keselamatan Masjid Al-Aqsha dan rakyat Palestina.
“Semoga Allah menjaga Masjid Al-Aqsha, menguatkan rakyat Palestina, menyatukan hati kaum muslimin, serta menghadirkan keadilan dan kemerdekaan bagi negeri yang diberkahi,” tutupnya.
Laporan: Media UZR
Leave a comment