GAZA — Di depan puing-puing rumahnya yang hancur di Jalur Gaza, Majdal Saadallah berdiri tanpa kata. Matanya kosong, seolah menatap waktu yang berhenti pada satu momen terakhir bersama putranya, Ahmed, 8 tahun.
“Dia tertawa dan memegang mainannya. Dia bertanya kapan dia akan kembali tidur di kamarnya,” kenangnya lirih.
Pertanyaan itu kini menggantung tanpa jawaban.
Rumah yang menjadi tempat perlindungan terakhir keluarga itu runtuh setelah serangan, menelan Ahmed ke dalam reruntuhan. Hingga kini, tubuh kecilnya belum ditemukan. Tim penyelamat tak mampu menjangkau lokasi tertahan oleh kehancuran, keterbatasan alat, dan serangan yang terus berlanjut.
Kisah Majdal bukan pengecualian. Ia adalah potret dari tragedi yang lebih luas: ribuan anak di Gaza yang hilang tanpa jejak, tanpa kepastian, di tengah perang yang mengubah kehidupan menjadi perjuangan bertahan hidup setiap detik.
Ribuan Anak Hilang, Nasib Tak Diketahui
Menurut data dari Pusat Palestina untuk Orang Hilang dan Orang yang Diculik Secara Paksa, jumlah anak-anak yang nasibnya tidak diketahui di Gaza telah melampaui 2.900 orang. Dari angka tersebut, sekitar 2.700 anak diperkirakan masih terkubur di bawah reruntuhan bangunan yang hancur.
Direktur pusat tersebut, Nada Nabil, menjelaskan bahwa total orang hilang di Gaza berkisar antara 7.000 hingga 8.000 jiwa. Angka ini mencakup ratusan anak yang menghilang dalam berbagai situasi saat mencoba mendapatkan bantuan, di jalur pengungsian, atau di wilayah dekat posisi militer Israel.
Namun angka-angka ini hanyalah sebagian dari kenyataan yang lebih luas sebuah krisis kemanusiaan yang tersembunyi di balik statistik.
Rumah yang Menjadi Kuburan Massal
Di berbagai sudut Gaza, rumah-rumah yang hancur kini berubah menjadi kuburan tanpa nisan.
Jenazah, termasuk anak-anak, tertimbun di bawah reruntuhan selama berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Tim penyelamat tidak mampu mengevakuasi mereka akibat kekurangan alat berat, bahan bakar, dan pembatasan akses yang ketat.
Bagi keluarga, kehilangan ini berlapis: mereka tidak hanya kehilangan orang yang dicintai, tetapi juga kehilangan kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal atau memberikan pemakaman yang layak.
Bagi Majdal Saadallah, waktu berhenti pada tawa terakhir anaknya. Di antara puing-puing dan debu, ia masih menunggu bukan hanya untuk menemukan Ahmed, tetapi juga untuk mendapatkan jawaban yang hingga kini belum pernah datang.
Dan bagi dunia, pertanyaan itu tetap menggema: berapa lama lagi anak-anak harus hilang sebelum keheningan ini benar-benar dipecahkan?
Sumber: Palinfo
Leave a comment