Rabu , 16 September 2026
BeritaInternasional

10 Tahun Resolusi PBB Tanpa Dampak, Tenaga Medis di Gaza Alami Serangan Sistematis Tanpa Perlindungan

GAZA — Organisasi kemanusiaan Médecins Sans Frontières (Dokter Tanpa Batas) memperingatkan bahwa serangan terhadap fasilitas kesehatan dan tenaga medis terus berlangsung, meskipun telah satu dekade sejak Dewan Keamanan PBB mengadopsi Resolusi 2286 Dewan Keamanan PBB yang menjamin perlindungan layanan kesehatan di zona konflik.

Peringatan ini disampaikan bertepatan dengan peringatan 10 tahun adopsi resolusi tersebut pada 3 Mei 2016, yang didukung lebih dari 80 negara. Namun, hingga kini, komitmen tersebut dinilai belum diwujudkan dalam tindakan nyata.

Dalam pernyataan bertajuk “Sepuluh Tahun Tanpa Perlindungan: Tim Medis Layak Mendapatkan Tindakan, Bukan Kata-Kata Kosong,” Presiden Internasional MSF, Javed Abdul-Munim, menegaskan bahwa penargetan tenaga medis yang dahulu dianggap sebagai pelanggaran luar biasa kini justru menjadi hal yang “biasa.”

“Kondisi ini sebagai bentuk “pengabaian terang-terangan” terhadap hukum humaniter internasional. Negara-negara yang berkomitmen melindungi layanan kesehatan harus berhenti saling menyalahkan dan mulai bertindak konkret,” kata Javed Abdul-Munim.

Selama satu dekade terakhir, serangan terhadap rumah sakit, ambulans, dan tenaga kesehatan meningkat drastis tanpa pertanggungjawaban yang jelas. Banyak negara yang dituduh justru menyangkal, menyebutnya sebagai “kesalahan,” atau bahkan mempertanyakan status perlindungan fasilitas yang diserang.

Dampaknya tidak hanya berupa korban jiwa, tetapi juga hilangnya akses masyarakat terhadap layanan kesehatan yang menyelamatkan nyawa. Infrastruktur yang hancur dan risiko keamanan memaksa banyak organisasi kemanusiaan menghentikan operasinya.

Jalur Gaza menjadi contoh paling nyata dari krisis ini. Data April 2026 menunjukkan sekitar 90 persen infrastruktur kesehatan di wilayah tersebut hancur atau rusak. Sebagian besar rumah sakit tidak lagi beroperasi, atau hanya berjalan dengan kapasitas sangat terbatas di tengah kelangkaan obat dan peralatan medis.

Di tengah kondisi tersebut, tenaga medis menghadapi ancaman langsung. Banyak dokter dan perawat bekerja tanpa perlindungan, bahkan menjadi sasaran serangan. Seorang dokter di Gaza, yang enggan disebutkan namanya, mengaku harus memilih pasien mana yang bisa diselamatkan karena keterbatasan alat.

“Kami bukan hanya kelelahan, kami hancur secara batin,” ujarnya lirih.

MSF mencatat bahwa sejak 2016, sedikitnya 21 staf mereka tewas dalam 15 insiden saat menjalankan tugas kemanusiaan. Sementara itu, data World Health Organization mencatat 1.348 serangan terhadap fasilitas kesehatan sepanjang 2025, dengan 1.981 korban jiwa.

Komunitas internasional pun kembali didesak untuk bertindak. Banyak organisasi hak asasi manusia menilai serangan terhadap fasilitas kesehatan merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.

Di balik angka-angka tersebut, terdapat kisah kemanusiaan yang memilukan tenaga medis yang tetap bertahan di tengah reruntuhan, merawat pasien sambil mempertaruhkan nyawa mereka sendiri.

Sumber: Palinfo

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Palestina

ArtikelKolom

Genosida Gaza: Antara Debu, Darah dan Doa

Di banyak tempat di dunia, air adalah simbol kehidupan. Namun di Gaza hari ini, mencari air justru bisa berarti mempertaruhkan nyawa. Pada 17...

Kolom

Taufan Al-Aqsa: Titik Balik Global dan Peluang Pembebasan Palestina

Ma’moun Fandy, professor ilmu politik di Georgetown University dan direktur London Global Strategy Institute, menulis di X pada 2/10/2025, “Gaza memang belum membebaskan Palestina dari...

Kolom

Dunia Gagal dalam Ujian Kelaparan di Gaza

Di Turki, ada ungkapan lama yang berbunyi: “Semoga Tuhan tidak menguji siapa pun dengan kelaparan.” Ungkapan ini lahir dari kesadaran akan betapa kejamnya...

ArtikelKolom

Muhammad al-Daif (Bag 1): Simbol Perlawanan Palestina yang Tak Tergoyahkan

Muhammad al-Daif adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah perlawanan Palestina. Namanya bukan hanya dikenal di Gaza, tetapi juga di seluruh dunia...

ArtikelKolom

Narasi Kegagalan yang Diakui Sendiri oleh Elit Penjajah Israel

Dalam sejarah panjang konflik Palestina-Israel, pertempuran di Gaza selalu menjadi salah satu ujian terberat bagi Israel. Gaza, dengan segala keterbatasannya akibat blokade dan...

Related Articles

11 Bulan Pasca Gencatan Senjata: Ratusan Ribu Warga Gaza Terjebak di Antara Tenda Lapuk dan Reruntuhan

GAZA — Hampir setahun berlalu sejak kesepakatan gencatan senjata ditandatangani dan pintu pembatas...

Serangan Penjajah Israel Meluas di Tepi Barat, Rusak Lahan Pertanian Warga

TEPI BARAT — Tepi Barat dan Yerusalem yang diduduki mengalami peningkatan serangan...

Gaza di Bawah Reruntuhan: Ketika Puing Jadi Makam Massal dan Bukti Kejahatan yang Coba Dilenyapkan Israel

Puing-puing bangunan yang membentang di seluruh penjuru Jalur Gaza kini tak lagi...

Laporan PBB Soroti Kekhawatiran Pembersihan Etnis di Tiga Kamp Pengungsi Tepi Barat

Sebuah laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang diterbitkan pada Jumat menyatakan bahwa Israel...