GAZA — Untuk hari ke-199 sejak dimulainya agresi, pasukan pendudukan Israel terus melanggar perjanjian gencatan senjata di Jalur Gaza melalui serangkaian serangan udara, tembakan langsung, dan operasi penghancuran sistematis terhadap kawasan sipil.
Pada Minggu, tiga warga Palestina gugur akibat tembakan yang menargetkan area sekitar Bundaran Kuwait dan Masjid Al-Saqa di wilayah Al-Maghraqa, selatan Kota Gaza. Serangan tersebut terjadi ketika kerumunan pengungsi berkumpul, menunggu bantuan dan mencoba bertahan di tengah kondisi yang semakin tidak manusiawi.
Menurut laporan Pertahanan Sipil, dua korban lainnya tewas akibat serangan pesawat tak berawak yang menghantam kerumunan warga sipil di lokasi yang sama. Sumber lokal mengidentifikasi dua korban di Bundaran Kuwait sebagai Muhammad Ziad Al-Ashqar dan Muhammad Riyad Al-Ashqar, sementara Mahmoud Saleh Jaber gugur dalam serangan di Al-Maghraqa.
Di Khan Younis, tragedi kemanusiaan kembali terjadi. Seorang perempuan pengungsi berusia 40 tahun, Huda al-Attar, tewas ditembak pasukan Israel di selatan kota. Ia adalah satu dari ribuan warga yang telah kehilangan tempat tinggal dan hidup dalam kondisi darurat berkepanjangan.
Sementara itu, Rami Ramzi Ghubn meninggal dunia akibat luka serius yang dideritanya dalam pemboman sebelumnya di lingkungan Sheikh Radwan, Gaza utara. Pagi harinya, dua jenazah lainnya tiba di Rumah Sakit Baptis Gaza setelah menjadi sasaran serangan di Persimpangan Netzarim pada malam sebelumnya.
Serangan tidak hanya menyasar manusia, tetapi juga infrastruktur vital. Tentara Israel melanjutkan operasi perataan bangunan di selatan Khan Younis, termasuk fasilitas sipil dan lembaga pendidikan. Serangan udara dan laut juga dilaporkan menghantam wilayah barat dan timur Jalur Gaza.
Di kamp pengungsi Bureij, helikopter Israel menembaki wilayah timur, sementara drone menjatuhkan bom di utara kamp. Pada waktu yang sama, artileri berat menghujani kawasan timur laut Bureij sejak subuh, memperparah ketakutan warga yang terjebak tanpa tempat aman.
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa sejak gencatan senjata diberlakukan pada 10 Oktober 2023, pelanggaran yang terus dilakukan Israel telah menyebabkan 811 warga Palestina tewas dan 2.278 lainnya luka-luka. Secara keseluruhan, sejak 7 Oktober 2023, jumlah korban telah mencapai sekitar 72.587 jiwa dan 172.381 luka-luka.
Kondisi ini memicu kecaman luas dari berbagai organisasi internasional dan kelompok hak asasi manusia yang menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional. Serangan terhadap warga sipil dan fasilitas non-militer dinilai bertentangan dengan prinsip perlindungan sipil dalam konflik bersenjata.
Di tengah kehancuran yang terus meluas, warga Gaza tetap berjuang bertahan hidup tanpa listrik, air bersih, dan akses medis yang memadai sementara dunia terus menyaksikan tragedi kemanusiaan yang belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.
Sumber: Palinfo
Leave a comment