Artikel

Sejarah dan Masa Depan Baitul Maqdis (1): Nama Baitul Maqdis dalam Al-Qur’an dan Artinya

Sejarah Baitul Maqdis

kitapalestina.com — Sejarah Palestina tentu tidak lepas dari sejarah peradaban para Nabi dan Rasul yang sangat panjang. Tempat tersebut selalu menjadi lokasi dari rentetan cerita-cerita perjuangan. Sebab itulah menurut beberapa pendapat, Palestina dinamakan sebagai Bait al-Muqaddasas karena merupakan tempat yang dipilih oleh Allah untuk mengutus banyak para Nabi di tempat itu.

Bait al-Maqdis dalam Al-Qur’an

Sejak manusia pertama, Nabi Adam as. beserta istrinya diturunkan oleh Allah swt. dari Surga menuju bumi untuk menjadi khalifah dan menyebarkan risalah tauhid kepada umat manusia. Tugas itu diemban secara terus-menerus dengan pergantian antara satu rasul ke rasul berikutnya, dari satu nabi ke Nabi berikutnya, sampai kepada manusia mulia, Muhammad saw. Selama garis tugas tersebut, Ka’bah di Makkah dan Masjid al-Aqsa di Baitul Maqdis menjadi tempat penting dalam sejarah kenabian.

Jauh sebelum masa Islam, Baitul Maqdis sudah menjadi tempat para Nabi dan Rasul dalam menyebarkan risalah tauhid di wilayah tersebut. Sebut saja Nabi Ibrahim as., Nabi Ishaq as., Nabi Dawud as., Nabi Sulaiman as., dan Nabi Isa as.

Ibnu ‘Abbas ra. Menyebutkan bahwa Baitul Maqdis adalah kota yang mendatangkan keberkahan di dalamnya. Pohon-ponoh tumbuh subuh, buah-buah dihasilkan dengan banyak, juga Sungai-sungai yang memeberikan pengairan (irigasi) yang sangat baik. Oleh karena itu, Baitul Maqdis dijadikan sebagai tempat dan kota para nabi.

 

Allah swt.. menyebutkan kata Baitul Maqdis dalam Al-Qur’an di beberapa tempat, seperti dalam QS. Al-Anbiya’/21: 71 yang menjelaskan tentang Nabi Ibrahim as. dan Luth as.

وَنَجَّيۡنٰهُ وَلُوۡطًا اِلَى الۡاَرۡضِ الَّتِىۡ بٰرَكۡنَا فِيۡهَا لِلۡعٰلَمِيۡنَ

Terjemahnya: “Dan Kami selamatkan dia (Ibrahim) dan Luth ke sebuah negeri yang telah Kami barakahi untuk sekalian manusia.” (Qs. Al-Anbiya’/21: 71)

Juga dalam QS. Al-Anbiya/21: 81, yang menceritakan kisah Nabi Sulaiman as.

وَلِسُلَيۡمٰنَ الرِّيۡحَ عَاصِفَةً تَجۡرِىۡ بِاَمۡرِهٖۤ اِلَى الۡاَرۡضِ الَّتِىۡ بٰرَكۡنَا فِيۡهَا‌ؕ وَكُنَّا بِكُلِّ شَىۡءٍ عٰلِمِيۡنَ

Terjemahnya:

Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang telah kami barakahi

Disebutkan pula dalam QS. Saba’/34: 18.

وَجَعَلۡنَا بَيۡنَهُمۡ وَبَيۡنَ الۡقُرَى الَّتِىۡ بٰرَكۡنَا فِيۡهَا قُرًى ظَاهِرَةً وَّقَدَّرۡنَا فِيۡهَا السَّيۡرَ ؕ سِيۡرُوۡا فِيۡهَا لَيَالِىَ وَاَيَّامًا اٰمِنِيۡنَ

Terjemahnya

“Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan barakah kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam hari dan siang hari dengan aman.”

Juga tentang umat Nabi Musa as. dalam QS. Al-A’raf.7: 137.

وَاَوۡرَثۡنَا الۡـقَوۡمَ الَّذِيۡنَ كَانُوۡا يُسۡتَضۡعَفُوۡنَ مَشَارِقَ الۡاَرۡضِ وَمَغَارِبَهَا الَّتِىۡ بٰرَكۡنَا فِيۡهَا‌ ؕ وَتَمَّتۡ كَلِمَتُ رَبِّكَ الۡحُسۡنٰى عَلٰى بَنِىۡۤ اِسۡرَاۤءِيۡلَۙ بِمَا صَبَرُوۡا‌ ؕ وَدَمَّرۡنَا مَا كَانَ يَصۡنَعُ فِرۡعَوۡنُ وَقَوۡمُهٗ وَمَا كَانُوۡا يَعۡرِشُوۡنَ

Terjemahnya: “Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri barakah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk kekhalifahan Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.”

Dan ayat yang menceritakan kisah perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw. dalam QS. Al-Isra’/17: 1.

سُبۡحٰنَ الَّذِىۡۤ اَسۡرٰى بِعَبۡدِهٖ لَيۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَـرَامِ اِلَى الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِىۡ بٰرَكۡنَا حَوۡلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنۡ اٰيٰتِنَا‌ ؕ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيۡعُ الۡبَصِيۡرُ

Terjemahnya:

Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil-Haram ke Masjidil-Aqsha yang telah Kami barakahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami…”

Empat ayat pertama mengacu pada masa sebelum Islam dan menyoroti Baitul-Maqdis sebagai tanah yang dikaruniakan berkah oleh Allah. Dalam ayat-ayat ini, Baitul-Maqdis disebut sebagai “al-ardh al-lati barakna fiha” yang dapat diterjemahkan sebagai “tanah atau negeri yang telah Kami karuniai/berkahi.” Hal ini menunjukkan bahwa seluruh wilayah tersebut, yang memiliki batas geografis yang jelas, telah dianugerahi keberkahan oleh Allah.

Ayat kelima, yang berbicara tentang peristiwa Isra’ Mi’raj, mengacu pada Masjid al-Aqsha di Baitul-Maqdis. Dalam ayat ini, Masjid al-Aqsha disebut sebagai “al-ladzi barakna hawlahu,” yang dapat diterjemahkan sebagai “yang telah Kami lingkupi/lingkari dengan berkah.” Dalam konteks ini, berkah tersebut mencakup pusat berkah di Baitul-Maqdis, yaitu Masjid al-Aqsha. Meskipun pusat berkah tersebut diidentifikasi, kawasan geografisnya sulit untuk dijelaskan atau didefinisikan dengan tepat.

Ringkasnya, empat ayat pertama merujuk pada wilayah Baitul-Maqdis secara keseluruhan, yang memiliki batas-batas geografis yang dapat diidentifikasi. Sedangkan ayat kelima menunjukkan pusat berkah di Baitul-Maqdis, yaitu Masjid al-Aqsha, yang mungkin sulit atau bahkan tidak mungkin didefinisikan secara geografis yang jelas.

Selain itu, Al-Quran juga mencatat bahwa terdapat berkah di tempat lain, yaitu Makkah. Dalam QS. Ali ‘Imran/3: 96, Allah swt.. berfirman,

اِنَّ اَوَّلَ بَيۡتٍ وُّضِعَ لِلنَّاسِ لَـلَّذِىۡ بِبَكَّةَ مُبٰرَكًا وَّهُدًى لِّلۡعٰلَمِيۡنَ‌‌ۚ

Terjemahnya:

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula ditegakkan untuk (tempat beribadah) manusia ialah Baitullah di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.”

Ayat ini menegaskan bahwa di Makkah berkah itu terdapat pada Ka’bah. Dengan demikian, berkah di Makkah dan Baitul Maqdis masing-masing berkaitan dengan lokasi yang memiliki peran penting dalam sejarah dan keyakinan Islam.

Arti Baitul Maqdis

Istilah “Baitul-Maqdis” atau “Baitul-Muqaddas” memang sudah dikenal sejak masa pra-Islam dan telah digunakan oleh Nabi Muhammad saw. dalam beberapa konteks. Istilah ini memiliki makna harfiah “rumah suci” dan merujuk pada tempat suci yang penting dalam sejarah agama dan kepercayaan yang terletak di kawasan tersebut.

Penting untuk diingat bahwa tidak semua istilah yang mengandung kata “Bait” (rumah) harus diartikan secara harfiah. Sebagian besar dari istilah ini adalah toponim (nama tempat) yang menjadi bagian dari sejarah dan tradisi, dan nama-nama ini tidak selalu mengandung makna harfiah. Sebagai contoh, “Bait Lahm” tidak diterjemahkan secara harfiah sebagai “rumah daging”.

Dalam kasus Baitul-Maqdis, istilah ini merujuk kepada kawasan yang memiliki makna spiritual dan religius yang sangat penting, terutama dalam agama Islam. Baitul-Maqdis adalah salah satu situs suci tertua dalam sejarah dan telah menjadi fokus perhatian dalam agama dan sejarah. Nama ini mencerminkan nilai dan pentingnya tempat tersebut dalam pemahaman Islam, dan penggunaannya oleh Nabi Muhammad SAW menunjukkan kedudukan istimewanya dalam agama Islam.

Baitul maqdis sendiri memiliki beberapa arti tergantung konteks dari pembicaraan, seperti:

  1. Iliya’ (Yerusalem)

Penamaan arti dari Baitul maqdis sebagai Iliya’ diambil dari kisah Rasulullah saw. saat tiba di Makkah setelah melakukan perjalanan Isra’ dan Mi’raj untuk menerima perintah salat. Ketika tiba, penduduk Makkah bertemu dan beliau menceritakan tentang perjalanannya yang jauh dan luar biasa. Penduduk Makkah bertanya, “ke mana?” Rasulullah saw. menjawab, “Baitul Maqdis.” Masyarakat bertanya lagi, “Apakah maksud kamu Iliya’?” Nabi saw. menjawab, “Benar.”

Kisah ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani yang menjelaskan bahwa masyarakat Makkah ketika itu memahami Baitul Maqdis sebagai Kota Iliya’ yang merupakan nama lain dari Yerusalem. Nama Iliya’ berasal dari Aelia Capitolina, diberikan oleh Kaisar Romawi, Hadrianus, setelah berhasil merebut Yerusalem dari tangan orang-orang Yahudi pada tahun 73 SM.

  1. Masjid

Penting untuk dipahami bahwa istilah “Baitul-Maqdis” memiliki makna yang sangat khusus dalam konteks Islam. Istilah ini tidak hanya merujuk pada kawasan atau kota Iliya’ secara keseluruhan, melainkan secara spesifik mengacu pada Masjid Al-Aqsha. Terdapat beberapa riwayat yang menegaskan hal ini, yang menjadikan Masjid Al-Aqsha sebagai fokus utama dalam penggunaan istilah “Baitul-Maqdis.”

Salah satu contoh adalah saat Nabi Muhammad saw. mengisahkan Nabi Yahya as. mengumpulkan Bani Israil di Baitul-Maqdis. Dalam kisah tersebut, Baitul-Maqdis digambarkan hingga “penuh sampai ke teras,” yang menunjukkan bahwa yang dimaksud oleh Nabi Muhammad adalah masjid itu sendiri, yaitu Masjid Al-Aqsha.

Selain itu, ada hadits lain yang menyebutkan bahwa telaga Nabi Muhammad di hari kiamat seluas antara Ka’bah dan Baitul-Maqdis. Sebuah hadis yang datang dari Anas bin Malik ra., Nabi saw. bersabda:

إِنَّ لِي حَوْضًا عَرْضُهُ كَمَا بَيْنَ أَيْلَةَ إِلَى الْكَعْبَةِ، أَوْ قَالَ: صَنْعَاءَ، أَشَدَّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ وَأَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ، فِيهِ آنِيَةٌ عَدَدُ نُجُومِ السَّمَاءِ، يَمُدُّهُ مِيزَابَانِ مِنَ الْجَنَّةِ أَحَدُهُمَا مِنْ وَرِقٍ، وَالْآخَرُ مِنْ ذَهَبٍ مَنْ شَرِبَ مِنْهُ لَمْ يَظْمَأْ بَعْدَهُ أَبَدًا مَنْ كَذَّبَ بِهِ لَمْ يُصِبْ بِهِ الشُّرْبَ

Artinya:

Sungguh aku memiliki telaga yang luasnya bagai antara Eliya (Baitul Maqdis) dan Ka‘bah. Atau perawi mengatakan: antara Eliya dan Shana‘a (Yaman). Airnya lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu. Di sana banyak wadah sebanyak bintang di langit. Membentang kepadanya dua aliran dari surga. Yang satu aliran dari perak. Yang satu dari emas. Siapa pun yang meminum airnya tidak akan haus lagi selamanya,”  (HR Abu Ya‘la dan Ibnu Hibban).

Tidak hanya itu, riwayat yang diteruskan oleh Ibnu ‘Abbas juga mencerminkan pentingnya Masjid Al-Aqsha dalam pandangan Islam. Dalam riwayat tersebut, Ibnu ‘Abbas menyarankan seorang wanita untuk beribadah di Masjid Nabi ketimbang Baitul-Maqdis jika dia ingin memenuhi nazar setelah sembuh dari penyakitnya. Riwayat ini menghubungkan Baitul-Maqdis dengan Masjid Nabawi dan Masjid Al-Haram, dengan pengecualian Masjid Al-Haram sebagai tempat yang lebih utama. Hal ini juga menegaskan bahwa Baitul-Maqdis merujuk secara spesifik pada Masjid Al-Aqsha. Pemahaman ini menguatkan penghargaan dan pentingnya Masjid Al-Aqsha dalam Islam dan memberikan pemahaman yang lebih tajam tentang penggunaan istilah “Baitul-Maqdis” dalam konteks agama ini.

  1. Kawasan

Pemahaman mengenai istilah “Baitul-Maqdis” dalam konteks Islam dapat menjadi subjek perdebatan dan variasi yang cukup menarik. Meskipun seringkali digunakan untuk merujuk pada masjid atau kota, namun dalam sejumlah riwayat dan situasi tertentu, istilah ini juga dihubungkan dengan kawasan yang lebih luas.

Salah satu contoh yang menarik adalah ketika Nabi Muhammad saw. wafat, muncul perdebatan tentang tempat pemakamannya. Sebagian orang mengusulkan Makkah, sementara yang lain mendukung Madinah. Namun, ada juga kelompok yang mengusulkan agar Nabi Muhammad dikebumikan di Baitul-Maqdis, yang dalam konteks ini merujuk pada kawasan yang lebih luas di mana para nabi lain juga dikatakan dimakamkan.

Penting untuk dicatat bahwa dalam konteks ini, “Baitul-Maqdis” yang disebutkan bukanlah merujuk secara eksklusif pada Masjid Al-Aqsha atau kota Iliya’. Istilah ini mencakup kawasan yang lebih besar, mencerminkan pemahaman bahwa makam para nabi tersebar di berbagai tempat di kawasan Palestina, seperti yang terjadi di Masjid Ibrahimi di Hebron, tempat makam Ibrahim, Ishaq, Ya’qub, serta istri-istri mereka berada.

Ini menggambarkan kompleksitas dalam pemahaman dan penggunaan istilah “Baitul-Maqdis” dalam tradisi Islam. Istilah ini dapat menjadi lebih fleksibel dan bervariasi dalam konteks sejarah dan keagamaan, menunjukkan pentingnya penjelasan dan pemahaman yang lebih dalam untuk mengklarifikasi penggunaannya dalam berbagai konteks.

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

ArtikelKhutbah Jumat

Materi Khutbah Jumat: Generasi Salahuddin Pembebas Al-Aqsa

KHUTBAH PERTAMA: إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ...

ArtikelKhutbah Jumat

Materi Khutbah Jumat: Tragedi Gaza, Apakah Kita Masih Ada?

Khutbah Pertama: إن الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور...

ArtikelOpini

Materi Khutbah Jumat: Gaza Masih Berdarah, Jangan Tinggalkan

Khutbah Pertama: إن الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور...