MASJIDIL AQSA – Untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, suara takbir Idul Fitri tidak menggema dari halaman Masjid Al-Aqsa. Di tempat yang biasanya dipenuhi jutaan doa dan langkah kaki jamaah, yang tersisa hanyalah keheningan yang mencekam.
Bagi warga Palestina, keheningan itu bukan sekadar absennya suara melainkan simbol dari sesuatu yang lebih dalam: pembatasan, kehilangan dan kekhawatiran akan masa depan hak beribadah kaum muslimin.
Penutupan Masjid Al-Aqsa oleh Zionis telah memasuki hari ke 26 sejak 28 Februari yang lalu, kini umat Islam belum dapat melakukan ibadah di dalamnya. Dengan alasan keadaan darurat terkait eskalasi konflik regional yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.
Meski dilarang masuk, warga tetap mendatangi gerbang masjid, terutama di Bab al-Asbat, untuk melaksanakan salat di titik terdekat.
Rekaman yang beredar menunjukkan jamaah salat di jalanan, di bawah pengawasan ketat aparat. Sebagian dari mereka menangis bukan hanya karena kehilangan momen spiritual, tetapi karena merasa terasing dari tempat suci mereka sendiri.
“Penutupan Masjid Al-Aqsa oleh penjajahan Zionis selama bulan Ramadan ini, sejak dimulainya perang yang sedang berlangsung antara Iran dan Amerika beserta proksi-proksi mereka di kawasan itu, termasuk rezim Yordania yang merupakan agresi baru, bahkan sebuah “tindakan perang” terhadap Masjid Al-Aqsa yang menyingkap kebohongan “perwalian Hashemit” rezim Yordania atas Masjid Al-Aqsa.” ungkap Syaikh Prof Abd Al-Fattah El-Awaisi dalam akun Telegram pribadinya.
Prof Abd Fattah juga menyoroti rezim-rezim Arab yang melayani, membela, dan berkoordinasi dengan para penjajah.
“Inti masalah ini terletak pada semua rezim boneka Arab – tanpa terkecuali – yang melayani, membela, dan berkoordinasi dengan Amerika serta negara binaannya, “negara penyangga/Israel”,” pungkasnya.
Tindakan ini melanggar kebebasan beribadah dan mencegah warga Palestina mengakses tempat suci umat Islam.
“Masjid Al-Aqsa bukan milik orang Palestina, dan bukan pula milik orang Arab. Masjid Al-Aqsa adalah ayat-ayat dalam Kitab Allah -Tabaraka Wata’ala- dan merupakan bagian dari akidah setiap Muslim yang mengucapkan: “Asyhadu allā ilāha illallāh, wa asyhadu anna Muḥammadan rasūlullāh.”, tegas Prof Abd Fattah.
Beliau juga menyebutkan bahwa kerusakan yang terus dilakukan oleh penjajah akan semakin membuatnya hancur dalam waktu yang dekat.
“Dominasi dan kerusakan yang dilakukan entitas Zionis telah mencapai puncaknya. Tindakan-tindakannya sering kali di luar dugaan, namun tetap dapat diperkirakan karena sikapnya yang penuh “kebodohan dan kesombongan.” Perilaku seperti ini diyakini akan terus berlanjut hingga akhirnya, dan justru akan mempercepat kehancurannya yang tidak terelakkan,” pungkasnya.
Kecaman atas penutupan Masjid Al-Aqsa datang dari berbagai organisasi hak asasi manusia, tokoh dan ulama Palestina serta pengamat internasional menilai bahwa pembatasan terhadap akses ibadah di tempat suci tidak dapat dibenarkan, bahkan dalam kondisi keamanan, jika dilakukan secara luas dan berkepanjangan.
Seruan untuk membuka kembali Al-Aqsa semakin menguat, seiring meningkatnya kekhawatiran bahwa kebijakan tersebut dapat memperdalam ketegangan dan memperburuk situasi kemanusiaan di wilayah tersebut.
Reporter: Muh Akbar
Leave a comment