Setidaknya enam orang tewas akibat serangan terpisah drone Israel terhadap pos polisi Palestina di Jalur Gaza dan Khan Younis. Serangan itu terjadi antara Kamis (26/2/2026) malam dan Jumat (27/2) dini hari.
Melansir Al Jazeera, keenam korban tewas diidentifikasi sebagai rakyat Palestina. Sebanyak empat korban berasal dari al-Mawasi, Khan Younis. Sementara dua lainnya berasal dari Jalur Gaza bagian tengah dekat kamp pengungsi Bureij.
Selain membunuh enam warga Palestina, serangan drone Israel itu juga menyebabkan sejumlah warga lainnya mengalami luka-luka. Beberapa korban luka akibat serangan itu dilaporkan dalam keadaan kritis.
Dua serangan drone dilancarkan Israel secara terpisah. Keduanya sama-sama menargetkan pos polisi Palestina, yakni pos pemeriksaan di persimpangan al-Maslakh, al-Mawasi di Khan Younis dan pos polisi dekat pintu masuk kamp pengungsi Bureij di Gaza bagian tengah.
Serangan drone mematikan itu dikecam Hamas. Mereka menyebut serangan itu sebagai perusak upaya mediator selama fase gencatan senjata.
Hamas juga menyebut Israel telah secara terus menerus melakukan pelanggaran kesepakatan gencatan hampir tiap hari sejak tercapainya kesepakatan pada 10 Oktober 2025 lalu.
Menanggapi korban jiwa yang terus berjatuhan di tengah kesepakatan gencatan senjata, Juru bicara Hamas Hazem Qassem menyebut bahwa hal ini mencerminkan “pengabaian terang-terangan pendudukan Zionis terhadap upaya para mediator”. Qassem juga menyebut Israel melakukan “pengabaian total terhadap Board of Peace dan perannya”.
Qassem juga mempertanyakan mengapa Israel bisa terus melangsungkan serangan mematikan kepada warga Palestina. Menurutnya hal ini menunjukkan bahwa komitmen penghentian konflik yang dibicarakan banyak negara tak menghasilkan terobosan konkret di lapangan.
“Pembicaraan negara-negara penjamin tentang penghentian perang tidak memiliki substansi nyata di lapangan,” katanya dalam sebuah pernyataan.
Jurnalis Al Jazeera, Tareq Abu Azzoum, melaporkan bahwa situasi berdarah di Gaza terus berlangsung kendati kesepakatan gencatan senjata telah tercapai.
“Israel telah memperjelas bahwa Israel tidak akan bertanggung jawab untuk mengatur kembali sisa-sisa kehidupan di Gaza,” kata Azzoum dalam laporannya.
“Itulah mengapa kita dapat melihat bahwa segala bentuk pemulihan layanan [publik] sebelumnya, termasuk kepolisian … akan digagalkan,” tambahnya.
Sumber: Al Jazeera
Leave a comment