JAKARTA — Tindakan intersepsi yang dilakukan militer Israel terhadap rombongan kapal misi kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 menuai kecaman dari berbagai pihak, termasuk Pemerintah Indonesia, dan berbagai lapisan masyarakat.
Insiden tersebut terjadi di sekitar perairan Siprus, Mediterania Timur, saat para relawan membawa bantuan kemanusiaan menuju Gaza.
Sedikitnya 10 kapal dilaporkan ditangkap, termasuk beberapa kapal yang membawa warga negara Indonesia (WNI), baik aktivis kemanusiaan maupun jurnalis.
Pemerintah Indonesia mendesak Israel untuk segera melepaskan seluruh awak kapal dan memastikan jalur bantuan kemanusiaan tetap dapat menjangkau rakyat Palestina sesuai hukum humaniter internasional.
Pemerintah juga disebut terus berkoordinasi dengan sejumlah KBRI guna memastikan keselamatan para WNI.

Ketua MUI Bidang Ukhuwah, Ustadz Zaitun Rasmin, turut menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden tersebut.
Menurutnya, upaya menghalangi bantuan kemanusiaan bagi rakyat Gaza merupakan bentuk ketidakadilan yang tidak boleh didiamkan oleh umat manusia.
“Mereka berlayar bukan untuk peperangan, tetapi untuk membawa amanah kemanusiaan dan ukhuwah Islamiyah bagi saudara-saudaranya di Gaza. Ketika tangan-tangan yang membawa obat dan bantuan justru dihadang, maka dunia sedang menyaksikan ujian besar terhadap nurani dan keadilan. Dalam Islam, membela orang-orang tertindas bukan hanya panggilan kemanusiaan, tetapi juga bagian dari iman,” ujar Ustadz Zaitun Rasmin.
Ia juga mengajak umat Islam dan masyarakat dunia untuk terus mendoakan keselamatan para relawan, memperkuat solidaritas terhadap Palestina, serta tidak berhenti menyuarakan dukungan bagi rakyat Gaza yang hingga kini masih menghadapi blokade dan krisis kemanusiaan berkepanjangan.
Dilansir dari globalsumudflotilla.org kapal perang angkatan laut Israel telah mengepung Armada Global Sumud di perairan internasional, sekitar 250 mil laut dari pantai Gaza, dan sedang secara aktif menghentikan kapal-kapal sipil.

Sebanyak 22 dihentikan di lepas pantai Kreta, 44 kapal telah dihentikan dan disita, 6 kapal yang masih berlayar, dan 369 peserta yang telah disandera.
Sebelumnya, Yusril Ihza Mahendra, Menteri Koordinator Bidang Hukum dan Hak Asasi Manusia, mengecam tindakan militer Israel yang mencegat armada kapal yang membawa bantuan kemanusiaan. Sembilan warga negara Indonesia, termasuk dua jurnalis, dilaporkan ditahan oleh Israel.
“Kami akan segera mengambil langkah hukum yang tegas karena di negara demokratis kami terdapat jaminan kebebasan dan hak-hak sipil, sehingga rakyat kami tidak boleh menghadapi tekanan atau kehilangan kebebasan mereka,” kata Yusril seperti dikutip Jakarta Globe pada Selasa.
Laporan: Media UZR
Leave a comment