MAKASSAR – Pemimpin Umum Wahdah Islamiyah Ustaz Dr. KH. Muhammad Zaitun Rasmin, Lc., M.A beri Kuliah Perdana di Program Studi Magister Perbandingan Mazhab dan Hukum (PMH) Institut Agama Islam (IAI) STIBA Makassar, pada Ahad (10/5/2026).
Tema yang disampaikan adalah “Adab Ikhtilaf dan Kedalaman Istinbath: Membangun Nalar Fikih yang Kritis dan Beradab”. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting yang dihadiri oleh para mahasiswa baru angkatan pertama yang berjumlah sekitar 60 orang lebih dan civitas akademika.
Ustaz Zaitun pada kuliah perdana ini turut mengisahkan perjalanan panjang pendirian STIBA yang sarat dengan perjuangan, pengorbanan dan berbagai tantangan.
“Sejarah pendirian STIBA, sungguh penuh suka dan duka. Melewati perjalanan yang luar biasa, ada optimisme dan harapan-harapan yang besar, tapi di dalamnya juga mengalami tantangan-tantangan yang besar,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa STIBA telah melewati perjalanan panjang sejak masih berstatus Sekolah Tinggi hingga kini berkembang menjadi Institut STIBA.
“Sejak perjalanannya STIBA melalui proses yang panjang dari Sekolah Tinggi dengan berbagai tantangan perizinan hingga kita berubah untuk menjadi Institut STIBA, yang kita harapkan kedepannya selangkah lagi kita menuju menjadi Universitas STIBA,” jelasnya.
Rektor IAI STIBA Makassar, Ustaz Dr. Akhmad Hanafi Dain Yunta, Lc., M.A. dalam sesi sambutan menyampaikan harapannya dengan kerberadaan Program Magister Perbandingan Mazhab dan Hukum mampu memperkuat visi institusi.
“Mudah-mudahan kuliah perdana ini menjadi kebaikan bagi kita semua. Semoga keberadaan S2 Prodi Perbandingan Mazhab ini dapat memperkuat tujuan institusi kita sebagai lembaga unggulan dalam pengembangan ilmu Islam, bahasa Arab, dan pembinaan karakter melalui tarbiyah,” ujarnya.
Ustaz Akhmad juga mengajak seluruh mahasiswa untuk memaksimalkan kontribusi dan proses belajar selama masa perkuliahan agar dapat memberikan manfaat yang besar bagi umat dan masyarakat.
Dalam pemaparan materinya, Ustaz Zaitun Rasmin menyoroti derasnya arus informasi di era digital menjadi tantangan tersendiri bagi para ulama dan penuntut ilmu.
Oleh karena itu, pembangunan nalar fikih yang benar harus dibangun di atas pemahaman yang tepat terhadap nash-nash syariat, pembacaan yang mendalam, bimbingan guru, serta keluasan ilmu dan wawasan.
“Untuk membangun nalar fiqih yang benar adalah harus memiliki pemahaman nash-nash dengan benar, dengan pembacaan yang mendalam dan bimbingan dari guru agar tidak salah dalam memahami. Serta memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas,” paparnya.
Lebih lanjut, Ustaz Zaitun menekankan pentingnya menghadirkan generasi penuntut ilmu yang memiliki kedalaman pemahaman agama.
“Dalam konteks kehidupan hari ini, kita sangat membutuhkan para penuntut ilmu yang memiliki kedalaman pemahaman, yang tidak hanya berhenti pada hafalannya. Tetapi memiliki keluasan pengetahuan dan mengikuti jalan para ulama yang sangat takut kepada Allah,” pungkasnya.
Melalui kegiatan ini, Program Magister PMH IAI STIBA Makassar diharapkan mampu melahirkan akademisi dan penuntut ilmu yang memiliki kedalaman istinbath, adab dalam menyikapi ikhtilaf, serta kemampuan membangun tradisi keilmuan Islam yang kritis, matang, dan berlandaskan nilai-nilai syariat.
Laporan: Media UZR
Leave a comment