MAKASSAR – Syaikh Dr. Ahed Ahmad Abu Al Atha memaparkan fakta pilu bahwa lebih dari 1.000 masjid di Gaza telah hancur rata dengan tanah akibat serangan penjajah. Meski begitu, ibadah dan pendidikan Al-Qur’an tetap berjalan di tengah puing-puing bangunan.
“Ini adalah Ramadan ketiga bagi saudara kita di Gaza dalam kondisi perang. Fasilitas serba terbatas, masjid-masjid dihancurkan secara sengaja untuk memutus generasi ulama. Namun, mereka tetap salat dan berbuka di bawah kemah serta reruntuhan,” ujar Syaikh Ahed dengan Ust. Ilham Jaya, Lc., M.H.I. sebagai penerjemah di Masjid Anas bin Malik IAI STIBA Makassar, Ahad (15/2/2026).
Syaikh Ahed menceritakan bagaimana anak-anak Gaza tetap mencetak prestasi di sisa-sisa kehidupan mereka.
“Mereka menghafal Al-Qur’an di bawah tenda tanpa pendingin ruangan, di tengah rasa lapar. Luar biasanya, ada yang mampu menghafal 10 juz hanya dalam waktu dua bulan. Mereka sadar bahwa ‘Hafizh Mujahidun’ inilah yang nantinya akan membebaskan Masjidil Aqsha,” tegasnya.
Keteguhan warga Gaza dalam menjaga interaksi dengan Al-Qur’an meski dalam kondisi bertaruh nyawa, diharapkan menjadi motivasi bagi umat Islam di Indonesia, khususnya di Makassar.
“Saudara kita di Gaza punya program seorang hafizh menyetorkan hafalannya 30 juz sekali duduk. Jika mereka yang di bawah tekanan genosida tidak memutus hubungan dengan Al-Qur’an, lantas apa alasan kita?,” pungkas Syaikh Ahed.
Syaikh Ahed merupakan asli Gaza dan saat ini bergerak di Indonesia dengan mendirikan Yayasan Persahabatan dan Studi Peradaban. Diketahui bahwa anak-anak Syaikh Ahed menyelesaikan hafalan Al-Qur’anya di tenda-tenda pengungsian, dan saat ini istri dan anak-anak serta keluarganya berada di Gaza.
Pemimpin Umum Wahdah Islamiyah, Dr. K.H. Muh. Zaitun Rasmin, Lc., MA dalam acara yang sama tersebut menyerukan kepada masyarakat Indonesia dan dunia agar bangkit dan berbuat untuk Gaza.
“Dengan segala kelemahan dan kekurangan kita, mari bangkit sedikit. Kalau masih ada rasa malu di hati dan rasa iman di dada. Sumbangkan yang terbaik dari kita masing-masing. Sekarang masuk Ramadan, saudara-saudara kita di Gaza dalam keadaan menderita dan sulit. Kita sebagai saudaranya tidak boleh membiarkan mereka dalam keadaan seperti itu,” serunya.
Wahdah Islamiyah bersama Komite Solidaritas Palestina dan Wahdah Inspirasi Zakat terus konsen pada perjuangan kemerdekaan palestina, aktif dalam berbagai program Dapur Umum, Paket Sembako dan Buah, serta membangun kembali Masjid yang runtuh, termasuk paket Ifthar Sahur dan Berbuka di bulan Ramadhan tahun ini.
Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban rakyat Gaza dan menjadi bentuk nyata solidaritas umat Islam terhadap saudara-saudara mereka yang sedang mengalami kesulitan. Bantuan dapat melalui link berikut: DONASI PALESTINA
Laporan: Media KITA Palestina
Leave a comment