ArtikelKolom

Genosida Gaza: Antara Debu, Darah dan Doa

Di banyak tempat di dunia, air adalah simbol kehidupan. Namun di Gaza hari ini, mencari air justru bisa berarti mempertaruhkan nyawa.

Pada 17 April 2026, dua pekerja sipil yang membantu operasi UNICEF tewas di Al Mansoura drinking water filling station, Gaza utara. Mereka bukan kombatan. Mereka bukan pasukan bersenjata. Mereka adalah orang-orang yang datang membawa air bagi keluarga pengungsi yang kehausan di tengah reruntuhan perang. Dua orang lainnya terluka dalam serangan itu. Setelah kejadian tersebut, operasi distribusi air utama untuk Kota Gaza terpaksa dihentikan sementara.

Tiga hari kemudian, pada 20 April 2026, tragedi kembali terjadi di Kota Gaza. Sebuah serangan udara menghantam pekerja lembaga bantuan di area sumur air. Satu orang tewas dan empat lainnya terluka. Sumur rusak berat. Aktivitas bantuan kembali terhenti. Di tanah yang seharusnya dipenuhi suara anak-anak bermain, yang terdengar justru ledakan, sirene, dan tangisan manusia yang kehilangan orang-orang tercinta.

Ini bukan sekadar krisis logistik. Ini adalah krisis kemanusiaan yang perlahan merampas hak paling dasar manusia: hak untuk hidup dengan aman dan bermartabat.

Menurut laporan terbaru OCHA PBB tertanggal 1 Mei 2026, hingga empat bulan pertama tahun ini, baru sedikit sekira 10 persen kebutuhan dana kemanusiaan yang berhasil dipenuhi. Sementara itu, jutaan warga Palestina masih hidup dalam pengungsian, kekurangan air bersih, obat-obatan, listrik, dan perlindungan.

Anak-anak Gaza tumbuh di antara puing bangunan dan langit yang dipenuhi ketakutan. Banyak dari mereka kehilangan rumah sebelum memahami arti rumah itu sendiri. Banyak ibu tidur dalam kecemasan setiap malam, bukan karena mimpi buruk, tetapi karena kenyataan yang jauh lebih mengerikan: tidak tahu apakah keluarganya masih hidup keesokan pagi.

Pada 26 April 2026, seorang pekerja bantuan dari organisasi Ard El Insan ditembak dan tewas di Gaza saat sedang berada dekat tempat kerjanya. Setelah kejadian itu, layanan organisasi dihentikan sementara demi alasan keamanan. Bahkan orang-orang yang datang membawa bantuan dan harapan kini hidup dalam ancaman maut setiap hari.

Penderitaan itu tidak berhenti di Gaza. Di Tepi Barat, kekerasan terus meluas.

Pada 21 dan 27 April 2026, serangan pemukim di desa Beit Imrin dan Jalud, Wilayah Kegubernuran Nablus, melukai sedikitnya 26 warga Palestina, termasuk tiga anak-anak. Rumah-rumah dirusak. Kendaraan dihancurkan. Ketakutan kembali ditanamkan ke tengah masyarakat sipil yang selama bertahun-tahun hidup di bawah tekanan dan ketidakpastian.

Lalu pada 27 April 2026, operasi besar selama 18 jam dilakukan di Kamp Qalandiya, Kafr ‘Aqab, dan Ar Ram di Kegubernuran Yerusalem. Sedikitnya 120 rumah digeledah dan dirusak. Sekitar 100 warga Palestina dipaksa meninggalkan tempat tinggal mereka untuk sementara. Puluhan orang ditahan. Sekolah dan klinik ikut terdampak. Bagi banyak keluarga Palestina, rumah kini bukan lagi tempat perlindungan, melainkan ruang yang sewaktu-waktu bisa berubah menjadi lokasi pengusiran.

Dunia tidak boleh membiasakan diri dengan penderitaan ini.

Ketika kematian warga sipil hanya dianggap statistik, saat itulah nurani manusia sedang mengalami kegagalan besar. Ketika anak-anak kehilangan masa depan dan pekerja kemanusiaan kehilangan nyawa hanya karena membawa air dan bantuan, maka diam bukan lagi pilihan netral.

Membela Palestina bukan berarti membenci bangsa lain. Membela Palestina adalah membela prinsip dasar kemanusiaan: bahwa tidak ada anak yang pantas hidup dalam teror, tidak ada keluarga yang pantas diusir dari rumahnya, dan tidak ada rakyat yang pantas hidup di bawah penjajahan dan kekerasan tanpa akhir.

Solidaritas dunia harus terus dijaga. Suara-suara kemanusiaan tidak boleh padam hanya karena tekanan politik atau ketakutan opini. Sejarah selalu mencatat siapa yang memilih diam ketika ketidakadilan terjadi, dan siapa yang tetap berdiri membela kebenaran meski penuh risiko.

Palestina hari ini tidak hanya membutuhkan bantuan pangan dan obat-obatan. Palestina membutuhkan dunia yang masih memiliki hati. Dunia yang masih percaya bahwa setiap nyawa manusia memiliki nilai yang sama. Dunia yang masih berani berkata bahwa penjajahan, penghancuran kehidupan sipil, dan penderitaan berkepanjangan bukanlah sesuatu yang boleh dinormalisasi.

Di tanah yang dipenuhi debu reruntuhan, darah para korban, dan doa-doa yang tak pernah berhenti dipanjatkan, rakyat Palestina masih bertahan. Dan selama nurani kemanusiaan masih hidup, perjuangan mereka tidak akan pernah benar-benar sendiri.

Penulis: Yushi Hiyoshi

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Palestina

ArtikelKolom

Genosida Gaza: Antara Debu, Darah dan Doa

Di banyak tempat di dunia, air adalah simbol kehidupan. Namun di Gaza hari ini, mencari air justru bisa berarti mempertaruhkan nyawa. Pada 17...

Kolom

Taufan Al-Aqsa: Titik Balik Global dan Peluang Pembebasan Palestina

Ma’moun Fandy, professor ilmu politik di Georgetown University dan direktur London Global Strategy Institute, menulis di X pada 2/10/2025, “Gaza memang belum membebaskan Palestina dari...

Kolom

Dunia Gagal dalam Ujian Kelaparan di Gaza

Di Turki, ada ungkapan lama yang berbunyi: “Semoga Tuhan tidak menguji siapa pun dengan kelaparan.” Ungkapan ini lahir dari kesadaran akan betapa kejamnya...

ArtikelKolom

Muhammad al-Daif (Bag 1): Simbol Perlawanan Palestina yang Tak Tergoyahkan

Muhammad al-Daif adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah perlawanan Palestina. Namanya bukan hanya dikenal di Gaza, tetapi juga di seluruh dunia...

ArtikelKolom

Narasi Kegagalan yang Diakui Sendiri oleh Elit Penjajah Israel

Dalam sejarah panjang konflik Palestina-Israel, pertempuran di Gaza selalu menjadi salah satu ujian terberat bagi Israel. Gaza, dengan segala keterbatasannya akibat blokade dan...

Related Articles

Taufan Al-Aqsa: Titik Balik Global dan Peluang Pembebasan Palestina

Ma’moun Fandy, professor ilmu politik di Georgetown University dan direktur London Global...

Dunia Gagal dalam Ujian Kelaparan di Gaza

Di Turki, ada ungkapan lama yang berbunyi: “Semoga Tuhan tidak menguji siapa...

Muhammad al-Daif (Bag 1): Simbol Perlawanan Palestina yang Tak Tergoyahkan

Muhammad al-Daif adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah perlawanan Palestina....

Narasi Kegagalan yang Diakui Sendiri oleh Elit Penjajah Israel

Dalam sejarah panjang konflik Palestina-Israel, pertempuran di Gaza selalu menjadi salah satu...