GAZA – Pada hari ke-61 gencatan senjata, hujan deras mengguyur Gaza dan membanjiri ribuan tenda pengungsi. Badai kutub yang diperkirakan segera datang dikhawatirkan memperburuk kondisi ratusan ribu warga yang telah hidup lebih dari setahun di tenda-tenda darurat yang ringkih.
Otoritas lokal memperkirakan Gaza membutuhkan lebih dari 300.000 tenda dan unit rumah prefabrikasi untuk sekadar menyediakan tempat tinggal yang paling mendasar, menyusul kerusakan masif pada infrastruktur akibat dua tahun perang.
Pertahanan Sipil Gaza mengatakan telah menerima lebih dari seribu panggilan bantuan terkait banjir yang merendam tenda-tenda, terutama di wilayah barat Gaza. Banjir memperparah kondisi kesehatan dan keselamatan pengungsi, banyak di antaranya adalah perempuan, anak-anak, dan lansia.
Pemerintah Kota Gaza: Krisis Bertambah Parah
Wali Kota Gaza, Yahya al-Sarraj, menyampaikan bahwa badai tersebut menyebabkan naiknya permukaan air secara signifikan, menutup jalan-jalan dan menenggelamkan sejumlah lokasi penampungan.
Ia menegaskan bahwa infrastruktur yang telah hancur, minimnya alat berat, serta ketergantungan pada peralatan sewaan yang sudah tua membuat pemerintah kota hampir tidak mampu merespons krisis ini secara memadai. Gelombang badai baru diperkirakan datang dalam beberapa jam ke depan.
Situasi Politik: Gencatan Senjata Masih Rawan
Di tengah krisis kemanusiaan, upaya memperkuat gencatan senjata terus dibahas. Kepala Hamas di luar negeri, Khaled Meshaal, kembali menegaskan bahwa otoritas di Gaza harus tetap berada di tangan rakyat Palestina sendiri.
“Bahaya datang dari entitas Zionis. Melucuti senjata Palestina berarti melucuti jiwa mereka,” ujarnya.
Seorang pejabat Amerika Serikat menyebutkan bahwa transisi menuju fase kedua gencatan senjata berjalan “lambat tetapi stabil”, meliputi upaya pertukaran tahanan, penghentian permusuhan, dan masuknya bantuan kemanusiaan. AS juga memastikan bahwa pasukan stabilisasi internasional tidak akan dikerahkan di wilayah yang dikuasai Hamas.
Sumber: Palinfo
Leave a comment