Khutbah Pertama:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ نُصْرَةَ الْمَظْلُومِينَ عِبَادَةً، وَجَعَلَ خِذْلَانَهُمْ خُسْرَانًا، وَأَمَرَ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَنَهَى عَنِ الظُّلْمِ وَالْعُدْوَانِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ دَوَامًا وَاتِّصَالًا..
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ، وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا، وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً، وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ، إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ، وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.
أَمَّا بَعْدُ…
Hadirin Jamaah Jumat yang semoga dimuliakan Allah,
Hari-hari yang penuh kemuliaan telah kita lewati, kita telah menghembuskan napas perpisahan dengan bulan Ramadhan, izinkan khatib mengajak kita semua untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Takwa dalam artian melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan di akhirat.
Saudaraku, hari ini kita berada di persimpangan waktu yang sangat pahit sekaligus sangat agung. Kita telah mengumandangkan takbir kemenangan Idul Fitri, di saat yang sama hati kita dirundung duka yang mendalam. Karena suara takbir itu tak terdengar di Masjidil Aqsa al-Mubarak.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, suara takbir Idul Fitri tidak menggema dari halaman Masjid Al-Aqsa. Di tempat yang biasanya dipenuhi jutaan doa dan langkah kaki jamaah, yang tersisa hanyalah keheningan yang mencekam.
Bagi warga Palestina, keheningan itu bukan sekadar absennya suara melainkan simbol dari sesuatu yang lebih dalam: pembatasan, kehilangan dan kekhawatiran akan masa depan hak beribadah kaum Muslimin di Masjid suci mereka.
Penutupan Masjid Al-Aqsa oleh Zionis telah memasuki hari ke 27 sejak 28 Februari yang lalu, kini umat Islam belum dapat melakukan ibadah di dalamnya. Dengan alasan keadaan darurat terkait eskalasi konflik regional yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…
Negeri yang Diberkahi, Tapi Dirundung Duka
Tanah yang diberkahi, tempat yang paling suci. Masjid Al-Aqsha, kiblat pertama umat Islam, tempat suci kedua, buminya para Nabi dan tanah Isra’ Mi’raj Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam.
Ulama Palestina, Syaikh Prof Abd Al-Fattah El-Awaisi menegaskan bahwa Masjid Al-Aqsa bukan milik orang Palestina, dan bukan pula milik orang Arab. Masjid Al-Aqsa adalah ayat-ayat dalam Kitab Allah Tabaraka Wata’ala dan merupakan bagian dari akidah setiap Muslim yang mengucapkan: “Asyhadu allā ilāha illallāh, wa asyhadu anna Muḥammadan rasūlullāh.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Isra ayat 1:
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Artinya: “Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Para ulama, termasuk Ibnu Katsir dalam tafsirnya, menjelaskan bahwa keberkahan di sekeliling Al-Aqsha itu mencakup keberkahan spiritual dan material. Di sanalah para nabi berkumpul, di sanalah Nabi Ibrahim berhijrah, dan di sanalah tempat tumbuhnya tanaman dan buah-buahan.
Dr. Mahmud asy-Syajrawi mengatakan, “Tidak ada seorangpun Nabi yang pernah Allah utus kecuali pernah berkunjung ke Masjidil Aqsha atau Baitul Maqdis.”
Namun hari ini, tanah yang diberkahi itu sedang dinodai. Tanah yang seharusnya menjadi tempat bersimpuhnya orang-orang beriman, kini menjadi saksi bisu atas kezaliman Zionis Israel.
Saudaraku, Jamaah Jumat yang di Muliakan Allah…
Dalam sebuah riwayat yang disampaikan oleh seorang sahabat, Abu Dzar menjelaskan kepada kita kapan Masjidil Aqsa dibangun.
عَنْ أبي ذر رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ مَسْجِدٍ وُضِعَ فِي الْأَرْضِ أَوَّلُ؟ قَالَ الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ، قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ الْمَسْجِدُ الْأَقْصَى، قُلْتُ كَمْ بَيْنَهُمَا؟ قَالَ أَرْبَعُونَ سَنَةً وَأَيْنَمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ فَصَلَّ فَهُوَ مَسْجِدُ
Artinya: Abu Dzar berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, masjid apa yang pertama kali dibangun di muka bumi?’ Beliau menjawab, ‘Masjidil Haram.’ Aku bertanya lagi, ‘Lalu apa?’ Beliau menjawab, ‘Masjidil Aqsa.’ Aku bertanya, ‘Berapa jarak antara keduanya?’ Beliau bersabda, ‘Empat puluh tahun. Maka, di manapun kamu mendapati waktu sholat, maka shalatlah di tempat itu karena di dalamnya terdapat keutamaan.'” (Shahih Bukhari, Jilid 4, Halaman 145).
Allah Subhanahu Wata’ala telah menyebutkan di dalam Al-Qur’an, bahwa masjid yang pertama kali dibangun di muka bumi adalah Masjidil Haram.
اِنَّ اَوَّلَ بَيْتٍ وُّضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِيْ بِبَكَّةَ مُبٰرَكًا وَّهُدًى لِّلْعٰلَمِيْنَۚ
Artinya: “Sesungguhnya rumah ibadah pertama yang dibangun untuk manusia ialah Baitullah (Makkah) yang diberkahi dan petunjuk bagi seluruh alam.” (QS. Ali Imran: 96).
Imam Ibnul Al-Jauzi berkata bahwa;
أوَّلُ مَنْ بَنَى الكَعْبَةَ آدَمُ ثُمَّ انْتَشَرَ وَلَدُهُ فِي الأَرْضِ فَجَائِز أنْ يَكُوْنَ بَعْضُهُمْ قَدْ وَضَعَ بَيْت المَقدِسِ
Artinya: “Orang pertama yang membangun Ka’bah adalah Nabi Adam . Kemudian, keturunannya menyebar ke seluruh bumi, dan kemungkinan beberapa di antara mereka juga membangun Baitul Maqdis.” (Kasyful Musykil: 1/360). Pernyataan ini juga dirajihkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani dalam kitab Fathul Bari (6/209).
Dengan demikian Jamaah Sekalian, bahwa Nabi Adam dan keturunannya adalah orang yang pertama kali mendirikan dan membangun hubungan fisik dan spiritual antara Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa, dan menjadikannya sebagai sumber petunjuk bagi manusia di seluruh bumi.
Ini menunjukkan betapa tingginya kemuliaan Masjid Al-Aqsha. Ia adalah masjid tertua kedua, fondasi tauhid yang dibangun sejak dahulu kala.
Kezaliman yang menimpanya adalah kezaliman terhadap simbol tauhid itu sendiri. Nabi kita tercinta pun, dalam sebuah hadits riwayat An-Nasa’i, menyampaikan doa Nabi Sulaiman Alaihissalam:
مَنْ جَاءَهُ لَيْسَ يُرِيدُهُ إِلاَّ الصَّلاَةَ فِيهِ، خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمَ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
Artinya: “Barangsiapa datang ke masjid ini (Al-Aqsha), tidak ada yang mendorongnya kecuali untuk shalat di dalamnya, maka ia akan keluar dari dosa-dosanya seperti saat ia dilahirkan oleh ibunya.”
Namun hari ini, pintu-pintu Masjid Suci kita sedang ditutup, di hadapan 2 milliar kaum Muslimin, kita tak bisa melakukan apa-apa. Mereka dihalangi, dianiaya, dan dipukul. Bahkan laporan dari kantor berita Palestina menyebutkan, ribuan jamaah terpaksa shalat Jumat dan shalat Id di jalan-jalan sekitar Kota Tua Yerusalem, di trotoar, dan di depan gerbang yang terkunci.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…
Di saat kita di Indonesia dengan mudahnya pergi ke masjid, dengan nyamanya melaksanakan shalat Tarawih, Shalat Jumat dan shalat Id, di sana saudara kita tidak mendapatkan kemudahan itu.
Delapan negara berpenduduk mayoritas Muslim, termasuk Indonesia, melalui menteri luar negerinya telah mengeluarkan pernyataan bersama. Mereka mengutuk keras penutupan ini, menegaskan bahwa Israel tidak memiliki kedaulatan atas Yerusalem yang diduduki, dan menuntut agar akses segera dibuka.
Namun, fakta pahit yang harus kita renungkan adalah: Negeri-negeri Islam seolah tidak mampu berbuat banyak. Kecaman demi kecaman terdengar, pernyataan demi pernyataan dikeluarkan, tetapi gerbang Al-Aqsha masih tetap tertutup hingga hari ini.
Ini adalah tamparan keras bagi persatuan umat. Ini adalah ujian dari Allah, sejauh mana kita mencintai masjid yang diberkahi ini?
Syaikh Ikrimah Sabri, mantan Khatib Masjid Al-Aqsha, pernah mengatakan bahwa umat Islam memiliki tanggung jawab historis dan spiritual terhadap masjid ini. Jika kita tidak mampu membela dengan fisik, maka setidaknya ada dua senjata yang tidak boleh pernah padam: doa dan zikir.
Ramadhan telah Pergi, Al-Aqsha masih Terkunci. Saat negeri ini bergemuruh dengan lantunan Takbir.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan segala puji bagi Allah.”
Namun, di balik gemuruh takbir kita, dengarlah isak tangis dari Baitul Maqdis. Di saat kita merayakan kemenangan, mereka masih berjuang untuk sekadar bisa menginjakkan kaki di halaman masjid mereka sendiri.
Ramadhan mengajarkan kita tentang jihad melawan hawa nafsu. Kini, di hari kemenangan yang telah kita lewati, kita diajak untuk merasakan penderitaan saudara seaqidah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
Artinya: “Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, saling menyayangi, dan saling bersimpati adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim).
Jamaah Jumat yang di Muliakan Allah…
Hari ini, Al-Aqsha sedang “demam”. Al-Aqsha sedang “sakit”. Apakah kita tidak ikut merasakan “demam” itu?
Jangan biarkan kebahagiaan yang telah kita rasakan di hari fitri kemarin, menjadikan diri kita lupa atas duka saudara kita sendiri.
أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم.
DOWNLOAD PDF MATERI KHUTBAH:
Khutbah Kedua:
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ.
Jama’ah Jum’at yang dimuliakan oleh Allah…
Sebagai penutup, berikut adalah beberapa pesan yang bisa kita bawa pulang, untuk menautkan hati, jiwa dan raga kita dengan Masjidil Aqsa dan Baitul Maqdis.
1. Perbanyak Doa untuk Al-Aqsha. Doa adalah senjata orang mukmin. Di hari raya, di saat mustajabnya doa, jangan lupa angkat tangan. Doakan agar Allah mengirimkan pertolongan-Nya. Doakan agar tentara-tentara kecil di Palestina dikuatkan. Doakan agar pemimpin Muslim diberi keberanian untuk membela Al-Aqsha. Sebagaimana doa Nabi Ibrahim yang disebut dalam surat Al-Anbiya ayat 71, kita berdoa agar negeri yang diberkahi itu segera pulih dan selamat dari kezaliman.
2. Jaga Persaudaraan. Hanya dengan persatuan kita bisa menjadi kekuatan. Perpecahan di tubuh umat Islam hanya akan memudahkan musuh untuk menghancurkan kita.
3. Gaungkan Isu Al-Aqsha. Jangan biarkan dunia lupa. Ceritakan kepada anak-anak kita, kepada keluarga kita, bahwa ada masjid yang sangat mulia yang kini terkunci. Tumbuhkan kecintaan kepada Al-Aqsha dalam jiwa mereka.
Keberkahan yang kita rasakan di hari yang fitri kemarin adalah gelombang keberkahan yang berpusat dari Masjidil Aqsa al Mubarak.
Semoga di Ramadhan yang akan datang, kita bisa merayakannya bersama-sama dengan saudara kita di Palestina di halaman Masjid Al-Aqsha yang penuh berkah.
Semoga Allah segera mengirimkan ghiyats (pertolongan)-Nya, sebagaimana Dia telah menyelamatkan Masjid Al-Aqsha dari para penjajah di masa Shalahuddin Al-Ayyubi.
اللهما إنا نسألك صلاة في المسجد الأقصى وهو حر عزيز
“Ya Allah, aku memohon kepadamu untuk shalat di Masjidil Aqsa dalam keadaan merdeka dan mulia.” Allahumma Aamiin…
اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،يَا سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ المُسْلِمِيْنَ وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَكَ أَعدَاءَ الدِّيْنَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ
اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا المُستَضْعَفِيْنَ فِي غَزَّة، اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِي فِلِسْطِيْنَ
اَللَّهُمَّ أَيِّدْهُمْ بِتَأْيِيْدِكَ، وَاحْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، يَا قَوِيُّ يَا عَزِيزٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، واللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.
Makassar, Jumat (27 Maret 2026)
Penyusun: Team KITA Palestina
Leave a comment