Minggu , 19 Juli 2026
BeritaInternasional

1.000 Hari Genosida Gaza: Korban Tewas Capai 73.066 Jiwa, Tahap Lanjutan Gencatan Senjata Mandek

GAZA CITY — Warga Palestina pekan ini menandai 1.000 hari sejak perang Gaza pecah pada 7 Oktober 2023, dengan total korban tewas mencapai 73.066 jiwa per Selasa (30/6) menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Meski gencatan senjata berlaku sejak 10 Oktober 2025, serangan Israel masih terjadi hampir setiap hari, sementara tahap lanjutan kesepakatan damai mandek pada isu pelucutan senjata Hamas.

Nasib lebih dari dua juta warga Gaza yang sebagian besar terusir dari rumah dan hidup di antara reruntuhan — tetap tidak menentu.

Serangan Hampir Setiap Hari Meski Gencatan Senjata

Kementerian Kesehatan Gaza mencatat 1.053 warga Palestina tewas sejak gencatan senjata berlaku, termasuk lebih dari 350 perempuan dan anak-anak. Korban dalam beberapa hari terakhir termasuk seorang remaja perempuan yang tengah dalam perjalanan ke sekolah serta seorang ibu bersama putrinya yang berusia satu tahun. Kementerian yang sama mencatat lebih dari 3.400 orang terluka sejak gencatan senjata dimulai.

Militer Israel menyatakan serangan-serangannya menargetkan Hamas dan kelompok bersenjata lain, dan menuding Hamas menjadikan warga sipil sebagai tameng. Pasukan Israel menguasai lebih dari separuh wilayah Gaza berdasarkan garis gencatan senjata, dan pemerintah Israel menyatakan berencana memperluas kendali hingga 70 persen.

Sementara itu, Kantor Media Pemerintah Gaza dalam pernyataan Kamis (2/7) mengklaim pasukan Israel kini menguasai 80 persen wilayah dan lebih dari 90 persen Jalur Gaza telah hancur. Kantor itu juga menyebut lebih dari 21.500 anak termasuk di antara korban tewas, sementara sekitar 9.500 orang masih hilang dan diyakini banyak yang terkubur di bawah reruntuhan.

Pelucutan Senjata Hamas Jadi Ganjalan Utama

Nickolay Mladenov, diplomat tertinggi yang mengawasi implementasi gencatan senjata, menegaskan tahap berikutnya dari kesepakatan yang dimediasi Amerika Serikat terhenti pada isu pelucutan senjata Hamas. Pelucutan senjata menjadi syarat bagi langkah lanjutan, termasuk pembentukan administrasi baru Gaza dan penempatan pasukan stabilisasi internasional. PBS

Hamas tidak menolak mentah-mentah pelucutan senjata, tetapi mengindikasikan ingin mempertahankan sebagian persenjataan dan menuntut konsesi lebih lanjut dari Israel. Kebuntuan ini menjadi ujian bagi Board of Peace, badan pimpinan Presiden AS Donald Trump yang dibentuk melalui Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803. Badan tersebut diluncurkan awal tahun ini dengan janji dana miliaran dolar, namun kini nyaris tak bersuara ke publik.

Krisis Kemanusiaan Belum Surut

PBB bulan lalu menyebut 17 rumah sakit di Gaza masih belum berfungsi. Direktur regional Komite Internasional Palang Merah (ICRC) Nicolas von Arx pekan ini mengatakan masih sangat banyak yang harus dilakukan agar kehidupan yang mendekati normal bisa kembali, dan kondisi saat ini masih jauh dari itu.

Bagi warga, dampaknya terasa sehari-hari. “Dulu kami punya segalanya sebelum perang. Sekarang kami hanya mendambakan sesuap makanan,” kata Mahmoud Ashour (33), pemilik toko di Khan Younis.

Wali Kota Gaza City Yahya al-Sarraj mengatakan kotanya kehilangan sekitar 85 hingga 90 persen sumber daya, bangunan, dan infrastruktur. Ia menyebut pemerintah kota telah menyiapkan cetak biru rekonstruksi bernama “Phoenix Plan”, dan warga akan langsung membangun kembali rumah mereka begitu perbatasan dibuka.

Sumber: Palinfo

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Palestina

ArtikelKolom

Genosida Gaza: Antara Debu, Darah dan Doa

Di banyak tempat di dunia, air adalah simbol kehidupan. Namun di Gaza hari ini, mencari air justru bisa berarti mempertaruhkan nyawa. Pada 17...

Kolom

Taufan Al-Aqsa: Titik Balik Global dan Peluang Pembebasan Palestina

Ma’moun Fandy, professor ilmu politik di Georgetown University dan direktur London Global Strategy Institute, menulis di X pada 2/10/2025, “Gaza memang belum membebaskan Palestina dari...

Kolom

Dunia Gagal dalam Ujian Kelaparan di Gaza

Di Turki, ada ungkapan lama yang berbunyi: “Semoga Tuhan tidak menguji siapa pun dengan kelaparan.” Ungkapan ini lahir dari kesadaran akan betapa kejamnya...

ArtikelKolom

Muhammad al-Daif (Bag 1): Simbol Perlawanan Palestina yang Tak Tergoyahkan

Muhammad al-Daif adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah perlawanan Palestina. Namanya bukan hanya dikenal di Gaza, tetapi juga di seluruh dunia...

ArtikelKolom

Narasi Kegagalan yang Diakui Sendiri oleh Elit Penjajah Israel

Dalam sejarah panjang konflik Palestina-Israel, pertempuran di Gaza selalu menjadi salah satu ujian terberat bagi Israel. Gaza, dengan segala keterbatasannya akibat blokade dan...

Related Articles

Salam Sehat Indonesia di Makassar Besok, Wahdah Islamiyah Gelar Talkshow hingga Layanan Kesehatan Gratis! Yuk Ramaikan

MAKASSAR — Wahdah Islamiyah akan menghadirkan berbagai program edukasi, layanan kesehatan, dan...

Jelang Muktamar V Wahdah Islamiyah: Ustadz Zaitun Rasmin Silaturahmi ke Pimpinan DPD RI, Bahas Kolaborasi Keumatan dan Kebangsaan

JAKARTA – Pimpinan Dewan Pengurus Pusat Wahdah Islamiyah (DPP WI) melakukan kunjungan...

Keynote Speaker di Seminar Baitul Maqdis, Ustadz Syaibani Mujiono: Guru sebagai Jantung Pergerakan Baitul Maqdis

MAKASSAR – Guru memiliki peran sentral dalam membangun generasi yang mencintai Masjid...

Laznas WIZ Mesir Salurkan Amanah Donatur, Sapa Pengungsi Sudan di Kairo dengan Kepedulian

MESIR – Konflik berkepanjangan yang melanda Sudan telah memaksa ribuan warganya mencari...